Antara Takdir dan Kerja Keras, Jalan Panjang Abdel A’la Meraih Golden Ticket Qatar Debate
Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online - Nama Abdel A’la Gadhelhaq mungkin belum terdengar di seluruh sudut kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, namun di panggung debat ilmiah bahasa Arab nasional, ia adalah sosok yang cukup dikenal. Mahasiswa semester 4 Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) ini baru saja mengamankan Golden Ticket untuk ajang bergengsi Qatar Debate setelah melalui perjalanan panjang yang penuh liku di Qatar Debate: Indonesian Chapter yang berlangsung di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, pada 11–13 April 2026.
Lahir dan besar di Bogor, Abdel merupakan alumni Pondok Pesantren Ibnu Sina, Pamijahan, Bogor. Awalnya, ia memiliki ambisi kuat untuk melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir, namun, realitas berkata lain. Status ijazah pesantrennya tercatat sebagai SMA, bukan Madrasah Aliyah membuatnya tidak memenuhi syarat beasiswa Kemenag, sehingga langkahnya terhenti dan dirinya mengurungkan niat untuk melanjutkan studi di Mesir.
"Bapak saya mencari alternatif untuk menyegarkan dahaga saya akan ilmu agama. Akhirnya, FDI adalah jawabannya," ujar Abdel, Selasa (21/04/2026).
Ketertarikan Abdel pada dunia debat baru muncul di semester satu kuliah. Sebelumnya, ia hanya mengenal khitabah (pidato). Tanpa pengalaman di bidang debat sama sekali, ia akhirnya bergabung dengan Abqary, lembaga semi-otonom yang berfokus pada debat dan khitabah bahasa Arab di bawah naungan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FDI.
Abdel menjelaskan bahwa perjalanannya tidak langsung mulus. Dari lima perlombaan debat yang diikuti, dua di antaranya berakhir dengan kekalahan pahit, termasuk kegagalan di babak penyisihan awal.
"Kalau saya tidak punya resilience (ketahanan diri), saya pasti sudah menyerah sejak kalah pertama kali. Bahkan di lomba kedua, saya sampai boncos (rugi materi) karena keluar uang banyak tapi tidak bawa pulang juara," kenangnya.
Namun, Abdel menekankan dua kunci utama keberhasilannya: ketahanan dan adaptasi. Baginya, setiap catatan dari juri di satu babak harus langsung diperbaiki di babak berikutnya. Mental adaptif inilah yang menutup celah pengalamannya yang minim dibandingkan peserta lain yang sudah bertanding belasan hingga puluhan kali.
Abdel memandang dunia pendidikan sebagai bahan bakar untuk berpikir kritis. Ia merasa beruntung mendapatkan didikan yang kuat saat di pesantren, sehingga memberinya fondasi nilai yang lurus sebelum akhirnya terjun ke dunia kampus yang penuh kebebasan berpikir.
"Di Pesantren saya diajarkan cara berpikir yang benar oleh guru. Ketika kuliah, saya menguji kelurusan jalan itu dengan cara melonggarkan ikat pinggang dan menyelam lebih bebas," jelasnya.
Menutup sesi wawancara, Abdel memberikan pesan bagi mahasiswa yang masih ragu untuk mencoba hal baru. Ia menyarankan agar mahasiswa memiliki sikap nekat dan jangan takut mencoba hal baru.
"Jangan terlalu banyak pertimbangan sampai tidak melangkah. Kita manusia lemah, tidak ada yang melangkah dengan pertimbangan 100 persen. Milikilah porsi nekat yang cukup untuk memperluas zona nyamanmu," tutupnya optimis.
Kini, dengan Golden Ticket di tangan, Abdel siap membawa nama Indonesia dan khususnya UIN Jakarta melalui delegasi FDI ke panggung dunia di Qatar, membuktikan bahwa hambatan di masa lalu hanyalah cara Tuhan mengarahkan menuju kesuksesan yang lebih besar.
Reporter: Ahmad Ivan Abid Nugroho |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
