Atasi Mahasiswa 'Buta Huruf' Al-Qur'an, LPQQ Ajak UIN Jakarta Berkolaborasi
Atasi Mahasiswa 'Buta Huruf' Al-Qur'an, LPQQ Ajak UIN Jakarta Berkolaborasi

Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online– Lembaga Pembelajaran Qira’atil Qur'an (LPQQ) resmi menjajaki kerjasama strategis dengan UIN Jakarta. Kolaborasi ini dilakukan guna menyukseskan Gerakan Nasional Pengentasan Buta Aksara Alquran, khususnya di lingkungan perguruan tinggi.

LPQQ menilai UIN Jakarta memiliki posisi strategis sebagai salah satu kiblat akademik Islam di Indonesia. Dengan menggandeng kampus tersebut, program pemberantasan buta huruf Alquran diharapkan bisa bergerak masif dalam skala nasional.

Rencana sinergi ini disambut positif oleh pihak kampus. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta, Prof. Ali Munhanif, M.A., Ph.D. mengakui adanya fenomena paradoks yang cukup memprihatinkan. Menurutnya, saat ini masih ditemukan mahasiswa maupun alumni perguruan tinggi Islam yang belum lancar membaca dan menulis Alquran.

Ali menilai, sistem kurikulum sejak peralihan status dari IAIN menjadi UIN membawa tantangan besar, terutama dalam mempertahankan kemampuan dasar keagamaan mahasiswa.

"Kami menyambut baik langkah kerja sama ini. Jujur, sudah lama kami memikirkan cara mendorong mahasiswa yang belum lancar baca-tulis Alquran agar bisa tuntas. Selama ini kita belum mampu menyiapkan sistem pembelajaran yang doable (cepat dan menghasilkan)," ujar Ali di Ruang Rapat Wakil Rektor Kemahasiswaan UIN Jakarta.

Ia menambahkan, rekam jejak LPQQ serta metodenya yang praktis dan efisien dipandang sebagai solusi tepat yang dibutuhkan kampus saat ini.

Mahasiswa Jadi Motor Penggerak di Masyarakat

Sementara itu, Pendiri LPQQ, KH Mahbub Sholeh Zarkasyi, menjelaskan bahwa gerakan ini tidak hanya menyasar internal kampus. Lebih dari itu, program ini didesain untuk memposisikan mahasiswa sebagai motor penggerak di tengah masyarakat.

Karakter mahasiswa yang dinamis dinilai mampu menembus batasan sosial yang kerap dihadapi oleh lembaga formal.

"Ketika mahasiswa yang bergerak, mereka bisa beraktivitas luas tanpa batas untuk masuk ke masyarakat. Target kami, saat mahasiswa melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN), mereka bisa membentuk minimal satu Kelompok Belajar Membaca Alquran (KBMA) di lokasi tersebut," ungkap KH Mahbub.

Tiga Program Utama LPQQ

Sebagai bentuk solusi konkret, LPQQ menawarkan metode pembelajaran klasikal yang efisien dan adaptif. Metode ini diturunkan ke dalam tiga program utama:

KBMA Formil: Pembelajaran intensif selama 7 hari dengan mekanisme klasikal hingga peserta bisa membaca Al-Qur'an.

KBMA Non-Formil: Ditujukan untuk jemaah majelis taklim dengan target fasih membaca dalam waktu 3 bulan.

Karantina Qiraatil Quran: Program khusus pelajar dan mahasiswa berbasis kemah atau pesantren kilat selama 3 hari untuk mencetak kemampuan membaca Alquran secara cepat. 

Melalui kolaborasi ini, kedua belah pihak berharap tantangan buta aksara Alquran di Indonesia dapat diselesaikan secara bergotong-royong. Langkah ini juga diharapkan mampu menjaga marwah mahasiswa UIN Jakarta sebagai insan akademis yang tetap fasih terhadap kitab sucinya.

Langkah awal dimulai dengan menggelar sertifikasi BTQ bagi mahasiswa yang sudah mahir membaca Alquran. Nantinya, mereka akan dipersiapkan menjadi mentor bagi rekan-rekan sesama mahasiswa.

“Kami mengagendakan pelaksanaannya di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta pada 25 Juli 2026. Kegiatan ini bakal diikuti sekira 300 mahasiswa UIN Jakarta. Semoga UIN Jakarta dapat menyambut baik kegiatan ini,” pungkas KH Mahbub.

Reporter: Rahadi Rahmaddianto | Editor : Rakhma Imamatul Ummah | Fotografer: Muhammad Zaky Alfatih | Publisher: Naila Yustiara

Dokumentasi:

lpqq-1

lpqq3