Budaya Konsumtif Tersembunyi di Balik Tren Penggunaan Tumbler
Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online – Penggunaan tumbler kini semakin populer di kalangan masyarakat sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Namun, di balik tren tersebut, muncul budaya konsumtif yang menjadikan tumbler sebagai bagian dari gaya hidup dan tren estetika.
Melansir dari laman itera.ac.id “Tren Tumbler sebagai Simbol Status dan Ironi Kepedulian Lingkungan”, penggunaan tumbler pada awalnya hadir sebagai alternatif wadah minum ramah lingkungan guna mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai.
Selain untuk mengurangi sampah plastik, terdapat beberapa alasan yang membuat masyarakat lebih memilih menggunakan tumbler dibandingkan botol plastik sekali pakai, di antaranya sebagai berikut dilansir dari fkm.unair.ac.id “Sadar Akan Dampak Buruk Penggunaan Botol Plastik: Masyarakat Lebih Suka Pakai Tumbler”:
- Lebih tahan lama dibandingkan botol plastik sekali pakai.
- Memiliki desain yang menarik dan multifungsi, seperti menjaga suhu minuman tetap panas atau dingin.
- Lebih ramah lingkungan karena membantu mengurangi limbah plastik.
- Dinilai lebih aman bagi kesehatan, terutama tumbler berbahan food grade dan BPA-free.
- Lebih ekonomis karena dapat digunakan berulang kali dalam jangka panjang.
Namun, seiring berkembangnya teknologi dan media sosial, tumbler kini tidak lagi dilihat dari fungsinya saja. Banyak anak muda mulai membeli tumbler bermerek dengan harga mahal yang sedang viral di media sosial demi mengikuti tren dan agar tidak ketinggalan zaman atau Fear of Missing Out (FOMO).
Melansir dari Jurnal KRESNA: Jurnal Riset dan Pengabdian Masyarakat “Tumbler sebagai Simbol Gaya Hidup dan Status Sosial di Masyarakat Urban”, tumbler kini mulai dipandang sebagai bagian dari fashion dan gaya hidup, terutama sejak munculnya berbagai desain menarik dan premium dari merek ternama seperti Corkcicle, Chako Lab, Stanley, dan Owala.
Dengan adanya media sosial, masyarakat mulai menjadikan tumbler sebagai bagian dari konten dan estetika di media sosial mereka. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya berlomba membeli maupun mengoleksi tumbler dari merek tertentu dengan edisi terbatas demi mengikuti tren dan memperoleh pengakuan sosial di lingkungan sekitarnya.
Keberadaan tumbler kini tidak lagi hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar sebagai wadah minum, tetapi juga menjadi bagian dari identitas, simbol status, serta bentuk ekspresi diri seseorang.
Fenomena mengoleksi tumbler turut mendorong gaya hidup yang lebih konsumtif di masyarakat. Kepemilikan tumbler dengan harga mahal atau merek tertentu membuat seseorang merasa lebih percaya diri serta dianggap lebih keren, mewah, dan eksklusif oleh lingkungan sekitarnya. Tumbler kini seolah menjadi barang wajib yang harus dimiliki untuk mengikuti tren.
Mengutip dari greennetwork.id “Fenomena Penumpukan Produk Ramah Lingkungan di Indonesia”, tren penggunaan tumbler tidak hanya berdampak pada gaya hidup, tetapi juga memengaruhi pengeluaran ekonomi masyarakat. Keinginan untuk mengikuti tren, membeli edisi terbatas, atau mengoleksi tumbler dari merek tertentu membuat banyak orang harus mengeluarkan uang lebih hanya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup dan estetika. Akibatnya, tidak sedikit tumbler yang akhirnya hanya menumpuk dan jarang digunakan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penggunaan tumbler yang awalnya bertujuan mengurangi sampah plastik kini juga dapat mendorong perilaku konsumtif, terutama ketika masyarakat membeli produk bukan karena kebutuhan, melainkan demi mengikuti tren di media sosial dan memperoleh pengakuan sosial.
Maka dari itu, untuk mengurangi perilaku konsumtif dalam tren penggunaan tumbler, diperlukan edukasi mengenai pentingnya konsumsi bijak dan kesadaran bahwa gaya hidup ramah lingkungan tidak harus diwujudkan dengan membeli banyak produk baru. Masyarakat perlu memahami bahwa fungsi utama tumbler adalah untuk digunakan berulang kali demi mengurangi sampah plastik, bukan sekadar mengikuti tren, estetika, atau gengsi di media sosial.
Reporter: Alfiah Ziha Rahmatul Laili |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
Sumber:
https://www.itera.ac.id/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan/
https://greennetwork.id/kolom-is2p/fenomena-penumpukan-produk-ramah-lingkungan-di-indonesia/
https://jurnaldrpm.budiluhur.ac.id/index.php/Kresna/article/view/221/169
