Cetak Debater Kelas Dunia melalui Penguatan Ekosistem Bahasa Arab di LSO Abqary
Gedung Kemahasiswaan, Arah Ormawa Fakultas - Lembaga Semi Otonom (LSO) Abqary mengukuhkan posisinya di Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pusat pengembangan prestasi bahasa Arab setelah berhasil meraih Juara 2 pada ajang Qatar Debate: Indonesian Chapter di UII Yogyakarta, 13 April 2026 lalu. Prestasi ini sekaligus mengantarkan tim Abqary meraih Golden Ticket untuk mewakili Indonesia di kancah internasional.
Ketua Umum Abqary, Mutiara Hikmah, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari fokus organisasi tahun 2026 yang menitikberatkan pada kualitas latihan dan penguatan delegasi ke kompetisi bergengsi.
"Tahun ini kami fokus memperkuat bonding antaranggota, memaksimalkan latihan rutin, dan mendorong anggota ke panggung internasional," ujar Mutiara, Rabu (22/04/2026).
Selain itu, Mutiara juga membeberkan tips agar Abqary tetap menjaga konsistensi dalam mengukir prestasi. Ia menjelaskan, di kepengurusan Abqary tahun 2026 memiliki tiga program unggulan, yaitu latihan rutin terstruktur setiap Kamis sore yang berfokus pada aspek teknis dan pola pikir kritis; muhadatsah sebagai ruang praktik bahasa Arab yang inklusif bagi seluruh mahasiswa UIN Jakarta; serta Abqary Talks yang menghadirkan alumni dan praktisi guna memperkaya wawasan serta motivasi anggota.
Mutiara menjelaskan bahwa LSO yang berdiri sejak 14 Oktober 2016 ini memiliki visi menjadi lembaga unggul dalam pembinaan debat (munadharah) dan pidato (khitabah) yang inspiratif. Nama "Abqary" sendiri secara filosofis berarti "sosok yang cerdas", mencerminkan tuntutan ketajaman berpikir dalam berdebat.
Wakil Ketua Abqary, Redy Muharram, yang juga merupakan salah satu mahasiswa yang menjadi delegasi dalam lomba tersebut, menekankan peran organisasi sebagai wadah transformasi bakat. Redy menceritakan, dirinya semula tidak memiliki dasar debat saat masuk di semester satu, berhasil berkembang berkat kurikulum Abqary yang intensif.
"Abqary membangun pola belajar saya dalam menyusun argumen kritis yang kuat. Kami tidak selalu menang, ada jatuh bangun, namun dari kekalahan itulah kami belajar untuk lebih baik," ungkap Redy, Senin (20/04/2026).
Redy mengungkapkan, selama di Abqary, mindset yang ia tanamkan yakni tangguh dan pantang menyerah. Ia juga menjelaskan bahwa prestasi adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan kegagalan.
Terakhir, Mutiara dan Redy sama-sama berharap, semoga keberadaan Abqary tidak hanya berdampak secara internal bagi mahasiswa FDI, tetapi juga secara eksternal dengan memperkuat eksistensi UIN Jakarta melalui jaringan sparing dengan universitas dalam dan luar negeri. Dengan dukungan penuh dari fakultas dan sinergi alumni, Abqary terus berkomitmen mencetak mahasiswa berprestasi yang tangguh dan reflektif di kancah global.
Reporter: Ahmad Ivan Abid Nugroho |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
