Dari Keterbatasan ke LPDP Kisah Ahmad Ashfia Raih Beasiswa BIB
Gedung Kemahasiswaan, Kisah Inspiratif Mahasiswa - Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB)–LPDP menjadi salah satu program yang memberikan dukungan finansial sekaligus peluang pengembangan akademik bagi mahasiswa di Indonesia. Di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kampus menyediakan beragam informasi terkait beasiswa yang disosialisasikan secara aktif melalui media sosial kemahasiswaan dan berbagai kegiatan. Salah satu program yang turut diperkenalkan kepada mahasiswa adalah Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB)–LPDP.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Ahmad Ashfia, awardee BIB-LPDP tahun 2023 yang melanjutkan studi magister (S2) Pendidikan Bahasa Arab di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia memiliki latar belakang pendidikan Sarjana (S1) dan Magister (S2) pada program studi yang sama, dengan menyelesaikan S1 pada tahun 2023 dan S2 pada tahun 2025. Pada kedua jenjang tersebut, ia meraih predikat sebagai wisudawan terbaik universitas serta aktif dalam berbagai organisasi, baik internal maupun eksternal kampus.
Prestasi akademik yang diraih tidak terlepas dari konsistensinya dalam menjaga kualitas belajar serta keterlibatannya dalam berbagai kegiatan pengembangan diri. Selain itu, lingkungan kampus yang mendukung serta akses terhadap informasi beasiswa turut menjadi faktor penting yang mendorongnya untuk terus berkembang dan berani mengambil peluang studi lanjut.
Ketertarikannya terhadap BIB-LPDP sudah muncul sejak tahun 2022, saat program ini pertama kali dibuka. Sejak saat itu, ia mulai mempelajari berbagai persyaratan dan mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi.
“Saya memilih BIB-LPDP karena merasa diri saya dan latar belakang pendidikan saya senada dengan kriteria atau target penerima beasiswa, dan juga senada dengan tujuan beasiswa ini, yaitu membentuk pemimpin yang berkontribusi nyata bagi masyarakat,” jelasnya, Rabu (22/04/2026).
Di balik pencapaiannya, terdapat motivasi kuat dari keluarga. Ia mengungkapkan bahwa keterbatasan ekonomi justru menjadi dorongan untuk terus berusaha.
“Abi saya ingin sekali anak-anaknya bisa lanjut pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, namun terkendala oleh ekonomi. Hal itu membuat saya memberanikan diri untuk daftar seleksi BIB-LPDP,” ujarnya.
Dalam proses seleksi, Ashfia melakukan persiapan secara matang. Ia memulai dengan mempelajari booklet, menyusun daftar persyaratan, dan melengkapi dokumen dengan teliti. Untuk kemampuan bahasa, ia menggunakan sertifikat TOAFL dengan skor 623.
“Untuk penulisan esai, saya dari berbagai sumber. Mempelajari esai milik teman yang sudah menjadi awardee LPDP dan juga dari YouTube, lalu menuliskannya dengan penuh penghayatan,” katanya, Rabu (22/04/2026).
Selain itu, ia juga aktif bergabung dalam komunitas belajar untuk mempersiapkan tes skolastik dan berbagi informasi dengan sesama pendaftar. Menurutnya, tahap skolastik menjadi tantangan terbesar karena jumlah soal yang banyak dan waktu yang terbatas. Ia mengatasinya dengan latihan intensif dan menjaga kesiapan mental.
“Cara saya menghadapinya adalah dengan terus latihan dan menjaga mental agar tidak panik,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga mempersiapkan tahap wawancara dengan mempelajari berbagai sumber dan melakukan latihan mandiri agar mampu menjawab secara terstruktur dan tidak berbelit.
Ashfia menekankan, kunci utama dalam meraih beasiswa bukan hanya strategi teknis, tetapi juga kejujuran dan kesiapan diri. Ia menggunakan strategi yang autentik, menunjukkan siapa saya sebenarnya, apa yang sudah saya lakukan, dan apa yang ingin saya capai,” tuturnya.
Selama proses persiapan, ia juga terus mengembangkan diri melalui berbagai aktivitas pembelajaran, baik secara teoritis maupun praktis. Setelah dinyatakan lolos, ia merasakan berbagai manfaat, mulai dari dukungan finansial hingga peningkatan kepercayaan diri dan perluasan jaringan.
Tak hanya itu, Ashfia juga menyoroti peran kampus dan lingkungan sekitar dalam mendukung proses yang ia jalani. Menurutnya, kemudahan administrasi dari kampus serta dukungan moral dari lingkungan menjadi faktor penting dalam keberhasilannya.
Meski telah meraih beasiswa, Ia menekankan pentingnya disiplin serta kemampuan mengelola diri agar tetap fokus pada tujuan.
“Kuncinya disiplin dan terus mengingat tujuan awal,” katanya.
Ia mengakui bahwa proses yang dilalui tidak lepas dari tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi di tengah berbagai aktivitas. Ia menekankan pentingnya disiplin serta kemampuan mengelola diri agar tetap fokus pada tujuan.
“Kuncinya adalah disiplin dan terus mengingat tujuan awal,” ungkapnya, Rabu (22/04/2026).
Sebagai penutup, ia pun mengingatkan mahasiswa lain untuk tidak menunda memulai proses. Menurutnya, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten lebih penting daripada menunggu kondisi yang sempurna.Mulailah dari apa yang bisa dilakukan sekarang, bangun kebiasaan belajar, dan tetap konsisten. Karena pada akhirnya, proses itulah yang membentuk kesiapan kita. “Jangan menunggu sempurna. Mulailah dari yang bisa dilakukan sekarang dan tetap konsisten,” pesannya.
Reporter : Salsabila Azahra |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
