Dari Laboratorium Mental LDK Menuju Panggung Dongeng di Berbagai Titik
Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online – Merespons fenomena anak-anak yang terbiasa dengan konten visual yang serba cepat dan mudah bosan hingga metode ceramah agama konvensional cenderung satu arah yang kerap kali menemui tantangan. Seorang aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid UIN Jakarta Dzikry Ardhan Afdhaluddin, menghadirkan terobosan dakwah kreatif melalui seni mendongeng menggunakan media boneka.
Dzikry menyampaikan, pesan paling inti yang selalu ia sisipkan adalah nilai Akhlakul Karimah selain dari pesan tentang tauhid dasar, semangat literasi, dan pesan-pesan ibadah lainnya. Ia pertama kali membeli boneka untuk mendongeng saat bulan Ramadan sekitar tahun 2025.
Dzikry mengungkapkan, inspirasi terbesarnya datang dari penampil di ajang Indonesia's Got Talent, seperti Kak Tony dan Adryan Natha, serta teman-teman dari komunitas Kampung Dongeng. Kehadiran boneka, menurutnya, sangat efektif karena memberikan visual dunia nyata yang lucu, menarik, dan interaktif, sehingga sukses memecahkan kebosanan audiens anak-anak yang menuntut tontonan visual yang bagus.
Menurutnya, media boneka mampu menciptakan dialog dan mencairkan suasana, bahkan sebelum cerita dimulai. Boneka menjadi media spesial, karena bisa ‘menegur tanpa menggurui’.
“Alih-alih menceramahi atau memarahi anak-anak secara langsung, saya menegur bonekanya yang berbuat salah sehingga pesan kebaikan bisa diterima anak-anak dengan cara yang lebih hangat dan pendekatan psikologis yang tepat,” ujarnya, Jumat, (8/5).
Lebih lanjut, ia mengatakan, LDK Syahid menjadi “laboratorium mental” baginya, di mana ia banyak dilatih untuk tampil, membaca puisi, bermain drama, hingga menjadi pewara. Bakat seninya tidak ia anggap sekadar hiburan, melainkan diwadahi sebagai sarana syiar dan kontribusi.
Dzikry menceritakan pengalaman pertamanya mendongeng di Kampung Pemulung, saat itu belum menggunakan media boneka dan dirinya difasilitasi oleh LDK Syahid. LDK Syahid pula yang pertama kali menghubungkannya dengan berbagai sekolah dan masjid untuk tampil mendongeng.
Dzikry menyampaikan, target audiens utamanya adalah anak-anak (TK, SD, PAUD) karena mereka adalah generasi emas masa depan. Namun, pesan yang ia bawakan bersifat universal, seperti kejujuran, rajin ibadah, dan sebagainya. Ia sering kali menyisipkan sentilan atau pesan teguran bagi orang dewasa yang hadir, yaitu orang tua dan guru terkait pola asuh anak, alhasil membuat audiens dewasa tersebut ikut tertawa dan terhibur.
Sementara itu, Dzikry justru sangat membatasi unggahan konten dongeng bonekanya untuk anak-anak di media sosial, seperti aplikasi TikTok dan Instagram. Alasannya, ia tidak ingin anak-anak semakin kecanduan bermain gawai atau scrolling. Ia hanya menggunakan boneka untuk konten media sosial jika sasarannya adalah orang dewasa yang membahas isu faktual atau saat bekerja sama dengan instansi seperti Kementerian Agama.
Dzikry menjelaskan alur penyampaian dongeng yang dimulai dengan tema. Tema disesuaikan dengan kebutuhan penyelenggara. Setelahnya ia melakukan riset dan menyusun naskah menggunakan gaya bahasa sehari-hari yang disesuaikan dengan rentang usia audiens.
Selanjutnya, ia melatih teknis vokal untuk memisahkan suara aslinya dengan suara karakter boneka agar audiens benar-benar merasakan seolah ada dua kepribadian yang berbeda di atas panggung. Ia menyingkap, dalam setahun terakhir, ia sudah tampil di sekitar seratus tempat, mayoritas meliputi sekolah, Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), masjid-masjid, hingga taman baca.
Di antara lokasi dakwah tersebut, Dzikry pun tidak jarang menemui beberapa tantangan, seperti sering mendapat pembatalan sepihak, diberi harapan palsu oleh panitia setelah acara selesai, serta kendala sound system yang rusak atau tidak ada sama sekali sehingga ia harus berteriak di ruang terbuka.
Dzikry mengatakan, kondisi audiens juga sering kali sulit dikendalikan. Bonekanya pernah ditarik sampai hampir rusak, memaksanya menyimpan kembali boneka tersebut dan lanjut bercerita tanpa boneka. Tantangan lainnya adalah saat anak-anak kelelahan, seperti saat ia harus tampil pukul 21.30 malam usai anak-anak mengikuti pawai obor, yang membuat fokus audiens benar-benar buyar.
Menurutnya, terdapat pula respons baik sangat luar biasa dan antusias. Testimoni yang paling membekas adalah dari seorang pihak sekolah yang mengatakan bahwa bertahun-tahun mereka mengundang pendongeng, tapi tidak ada yang cocok, hingga akhirnya penampilan saya berhasil memikat antusiasme luar biasa dari para siswa dan sekolah berniat mengundangnya kembali.
“Saya merasa metode ini sukses memperkenalkan agama dan literasi dengan cara yang menyenangkan,” katanya.
Menyadari bahwa permintaan masyarakat terhadap pendongeng jauh lebih tinggi daripada jumlah pendongeng yang tersedia, Dzikry bermimpi untuk menciptakan ekosistem atau komunitas pendongeng kreatif yang lebih luas. Saat ini ia sudah mulai melatih beberapa temannya dan mendistribusikan tawaran mendongeng kepada mereka. Ke depannya, ia berharap aktivis-aktivis dakwah bisa merambah jalur dakwah kreatif, inovatif, dan tidak kaku ini agar kebermanfaatan mereka meluas hingga ke luar kampus.
“Mendongeng menjadi sarana refreshing yang membantu saya melepas penat dari stres menyusun skripsi, melatih kemampuan pendidikan kelak jika saya menjadi ayah atau guru, serta memberikan kemandirian finansial karena saya kini memiliki penghasilan sendiri dari kegiatan tersebut,” pungkasnya.
Reporter: Laila Nurrahma |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
