Di Balik Penghargaan Pegiat Literasi Banten 2026: Liku Tantangan di Lapangan dan Kekuatan “Mikrofon” Duta
Di Balik Penghargaan Pegiat Literasi Banten 2026: Liku Tantangan di Lapangan dan Kekuatan “Mikrofon” Duta

Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Jakarta menorehkan prestasi tingkat provinsi di bidang literasi. Mahasiswa tersebut bernama Dzikry Ardhan Afdhaluddin. Ia meraih penghargaan sebagai Pegiat Literasi Provinsi Banten 2026 dalam rangkaian acara Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara yang diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten. Penghargaan tersebut diberikan oleh Gubernur Banten, Andra Soni, Minggu (17/5).

Penghargaan Gerakan Budaya Gemar Membaca merupakan program apresiasi tahunan dari Pemerintah (Pusat dan Daerah) melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) untuk merayakan pegiat literasi, komunitas, dan duta baca. Program penghargaan ini dikelola langsung secara aktif oleh DPK Provinsi Banten serta dirancang untuk mendongkrak Indeks Kegemaran Membaca (IKM) masyarakat Banten di tingkat nasional.

Dzikry Ardhan sebagai peraih kategori Pegiat Literasi mengungkapkan perjalanan panjang menuju pemilihan tersebut. Ia menyingkap kecintaannya pada literasi dan buku sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, langkah nyatanya sebagai pegiat literasi bermula pada tahun 2022 saat ia masih menjadi mahasiswa baru. 

Dzikry lanjut menyampaikan, merasa gelisah melihat ketimpangan akses informasi bagi anak-anak marginal. Ia memutuskan untuk turun ke akar rumput menjadi relawan pengajar di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kolong Ciputat yang beroperasi di bawah jembatan layang. Ia tidak ingin ilmu akademik dari kampusnya hanya terkurung di ruang kelas. Perjalanannya kemudian berkembang menjadi berbagai inisiatif besar.

Melalui Divisi Keilmuan Lembaga Dakwah Kampus (LDK Syahid) FDI, ia mengadopsi konsep diskusi buku yang asyik agar mahasiswa tidak malas dan bosan dengan kegiatan literasi berupa UIN Jakarta Book Party. Tak berselang lama, gelar Duta Baca Kota Tangerang Selatan tersemat di namanya. Gelar itu memberikannya ruang untuk keliling menjadi pendongeng di lebih dari 99 lokasi (TK, SD, SMP, hingga Car Free Day) guna memikat anak-anak agar kembali mencintai buku. 

Selain itu, Dzikry juga bergabung di komunitas Negeri Kami untuk membuat buku interaktif yang secara khusus membahas budaya dari berbagai kota di Indonesia, serta menjadi panitia penggerak acara Ciputat Membaca yang sukses dihadiri lebih dari 800 orang. Terbaru, ia mencetak regenerasi lewat Boost Skill, platform pelatihan keterampilan dengan tujuan agar makin banyak orang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan bisa ikut terjun memperluas gerakan literasi di masyarakat. Puncak dari konsistensinya di akar rumput selama tiga tahun tersebut adalah dianugerahinya ia sebagai Pegiat Literasi Provinsi Banten 2026 oleh Gubernur Banten.

Dalam keterangan Dzikry pada sambutan Gubernur Banten Andra Soni, ia menekankan pentingnya metode bertutur dalam pembentukan generasi muda. Menurutnya, kehadiran pegiat literasi muda sangat krusial dalam membangun peradaban. Melalui metode kreatif seperti storytelling, pegiat tidak hanya melestarikan kekayaan cerita rakyat, tetapi juga menjadi pilar utama dalam membentuk karakter dan budi pekerti generasi masa depan Banten.

Storytelling tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi, komunikasi, kreativitas, dan imajinasi anak,” ucap Andra Soni, Minggu (17/5).

Dzikry menyampaikan, ada dua tantangan yang ia hadapi selama perjalanan tiga tahun itu. Tantangan terberat adalah mengubah stigma bahwa membaca itu membosankan dan berat, apalagi anak-anak mendapat gempuran konten digital instan, seperti TikTok dan Instagram yang mudah mengalihkan perhatian mereka dari buku. Belum lagi soal manajemen waktu di mana ia harus membagi waktu dan energi antara berkuliah, mengejar lomba-lomba seperti baca puisi dan pidato, serta konsisten mengajar di TBM yang menuntut energi yang luar biasa.

“Untuk mengatasi tantangan tersebut, saya harus memutar otak dengan mengemas penyampaian literasi menjadi interaktif melalui dongeng teatrikal, drama, dan kehadiran boneka. Tujuannya agar buku dipandang sebagai sebuah petualangan seru, bukan beban. Lalu untuk mengatasi kelelahan, saya menanamkan pola pikir bahwa dunia literasi adalah hobi, kesenangan, dan hiburan pelepas penat,” ucap Dzikry, Jumat, (29/5).

Lebih lanjut, Dzikry menegaskan, gelar duta dan prestasinya selama ini memiliki pengaruh signifikan terhadap proses pemilihan Pegiat Literasi. Gelar duta memberikannya kredibilitas di mata pemerintah dan lembaga, membukakan “pintu akses” yang vital untuk menyinergikan komunitas akar rumput, seperti TBM Kolong dengan pemangku kebijakan pemerintah. Ia juga mengibaratkan gelar duta sebagai mikrofon. Gelar tersebut memberikannya panggung dan daya jangkau yang luas. Ketika ia menggunakan “mikrofon” tersebut untuk menyuarakan urgensi literasi, gaungnya terdengar hingga ke penjuru provinsi dan meyakinkan juri untuk memilihnya.

“Untuk bisa maju berkompetisi hingga tingkat provinsi, seseorang harus dikenal dan diwakilkan dari kota atau kabupatennya. Status saya sebagai Duta Baca Kota Tangerang Selatan-lah yang menjadi tiket utama menuju panggung provinsi. Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara kapabilitas komunikasi profesional dan ketulusan bergerak di akar rumput mampu melahirkan dampak akselerasi yang nyata di masyarakat,” pungkasnya.

Reporter: Laila Nurrahma |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby