Di Balik Predikat Summa Cum Laude Wisudawan Terbaik UIN Jakarta, Arinatul Ulya Memilih Jalur Pemberdayaan Pemuda
Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online – Wisudawan Terbaik ke-140 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta asal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI), Arinatul Ulya, berhasil menyelesaikan studi dengan Indeks Predikat Kumulatif (IPK) 3,95 dan memperoleh predikat Summa Cum Laude. Penghargaan wisudawan terbaik diberikan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Program Sarjana, Magister, dan Doktor ke-140 di Auditorium Harun Nasution, Minggu (24/5).
Arinatul Ulya, yang akrab disapa Arin, menyampaikan, perjalanan kuliah sampai mendapat penghargaan sebagai wisudawan terbaik tidak pernah terpikirkan olehnya. Bahkan, ia tidak berencana kuliah di UIN Jakarta. Ia justru tertarik dengan isu-isu hukum dan kebijakan. Meski begitu, ia menyadari bahwa keputusan akhir ke Prodi HI membawanya ke banyak kesempatan.
Arin melanjutkan, di sana, ia menemukan ketertarikan yang lebih besar pada isu global, diplomasi, dan pengembangan pemuda. Kampus juga memberikan ruang yang sangat luas baginya untuk berkembang. Ia mengungkap kesempatan yang ia dapatkan, mulai dari organisasi, kompetisi, konferensi, hingga berbagai kegiatan pengembangan diri, yang akhirnya membentuk caranya berpikir dan melihat dunia hari ini.
“Kunci utama hingga bisa meraih predikat wisudawan terbaik, saya rasa jawabannya adalah konsistensi, keberanian untuk mengambil peluang, dan komitmen untuk selalu memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan yang saya jalani,” ujar Arin pada wawancara Senin, (1/6).
Terkait strategi belajar, Arin menyatakan, jawabannya tidak terlalu spesial. Ia bukan tipe orang yang memiliki metode belajar yang rumit atau jadwal yang sangat ketat. Sesuatu yang paling membantunya justru rasa penasaran.
“Selama kuliah, saya berusaha menjaga rasa ingin tahu itu tetap hidup, baik di dalam maupun di luar kelas. Prinsip hidup saya adalah selalu percaya bahwa setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Karena itu, saya lebih fokus untuk terus bertumbuh daripada terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain,” katanya.
Dalam proses akademik tersebut, Arin menuturkan beruntung memiliki circle belajar yang memiliki nama “Sok-Sokan Belajar”. Menjelang ujian, ia dan teman-temannya melakukan review materi bersama, saling menjelaskan topik yang belum dipahami, atau sekadar berdiskusi sebelum kelas dimulai. Baginya, kelompok kecil itu mengajarkan bahwa belajar tidak harus selalu dilakukan sendiri. Justru banyak pemahaman yang ia dapatkan ketika bertukar perspektif dengan teman-teman.
Tak hanya berprestasi di ranah akademik, Arin turut terlibat dalam berbagai organisasi, kompetisi, proyek sosial, dan berbagai pengalaman di luar kelas. Ia aktif mengikuti konferensi Model United Nations (MUN) dan berhasil meraih beberapa penghargaan. Ia juga berkesempatan menjadi pembicara, moderator, serta terlibat dalam berbagai proyek dan kegiatan yang berkaitan dengan kepemudaan, pendidikan, dan kemanusiaan.
Arin menambahkan, ia merasa organisasi dan komunitas menjadi salah satu ruang belajar yang paling berharga di luar kegiatan kuliah. Di kelas, ia belajar bagaimana memahami dunia melalui teori dan konsep, tetapi di organisasi, ia belajar bagaimana menghadapi dunia yang sebenarnya. Dari sana, ia bertemu banyak orang dengan latar belakang, cara berpikir, dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Itulah yang perlahan mengubah caranya melihat banyak hal.
Namun, jika berbicara tentang pencapaian yang paling berarti, ia akan menyebut komunitas Ruang Eksplorasi. Bersama teman-teman, ia membangun komunitas tersebut dari sebuah gagasan sederhana: bagaimana menciptakan ruang bagi anak muda untuk mengenali potensi dirinya, bertumbuh, dan berani mengambil peluang yang terasa jauh dari jangkauan mereka. Dari sana, ia melihat secara langsung bagaimana sebuah komunitas dapat membantu seseorang menemukan kepercayaan diri, mengembangkan potensinya, atau bahkan menemukan arah yang ingin mereka kejar.
“Sesuatu yang membuatnya istimewa bagi saya bukan karena komunitas itu berhasil berdiri, tetapi karena saya bisa melihat dampaknya secara langsung. Di titik itu, saya menyadari bahwa pencapaian terbesar bukan selalu tentang penghargaan yang kita terima secara pribadi, melainkan tentang seberapa banyak kesempatan yang bisa kita buka untuk orang lain,” ucapnya.
Soal rencana ke depan, ia bercita-cita melanjutkan studi Master of Laws (LL.M.) di Eropa untuk memperdalam pemahaman di bidang hukum internasional. Selanjutnya, ia ingin berkarier di bidang international development. Namun, lebih dari sekadar posisi atau profesi tertentu, ia ingin berada di ruang yang memungkinkannya menjembatani ide, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat sehingga dampak yang dihasilkan tidak berhenti di tingkat diskusi, tetapi benar-benar dapat dirasakan oleh banyak orang.
Untuk mahasiswa, Arin berpesan untuk jangan takut mencoba hal-hal baru. Banyak hal yang ia capai selama kuliah bukan karena ia merasa paling siap atau paling hebat, melainkan karena ia memilih untuk mengambil kesempatan ketika kesempatan itu datang. Kuliah mengajarkannya untuk tidak menerima sesuatu begitu saja, tetapi belajar mempertanyakan, menganalisis, dan mencari solusi yang lebih baik. Cara berpikir inilah yang menurutnya akan terus relevan, bahkan jauh setelah masa perkuliahan berakhir.
“Kuliah adalah proses bertumbuh yang membantu seseorang mengenali dirinya, memperluas cara pandangnya, dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dan bagi saya, pemahaman itulah yang paling mengubah cara saya memaknai arti sebuah pendidikan tinggi,” pesannya.
Reporter: Laila Nurrahma |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
