Di Tengah Wacana Penutupan Prodi, Mahasiswa Dorong Kampus agar Perkuat Keterampilan Praktis Mahasiswa
Gedung Kemahasiswaan, Berita Online Kemahasiswaan - Mengutip dari Tempo.co dengan berita berjudul “Kemendikti Akan Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Indsutri” yang dipublikasi pada Sabtu (25/4/2026) tertulis bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti) berencana untuk menutup Program Studi (Prodi) yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri pertumbuhan ekonomi. Eksistensi Prodi keislaman di perguruan tinggi menjadi sorotan terkait relevansinya dengan kebutuhan pasar kerja. Perdebatan mengenai efektivitas kurikulum keagamaan dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di industri non-pendidikan menjadi isu hangat di kalangan akademisi dan mahasiswa.
Dua mahasiswa dari rumpun keislaman memberikan perspektif yang beragam untuk menjawab kondisi saat ini. Mahasiswa Prodi Dirasat Islamiyah semester enam, Aulia Milla Rosyidah, menekankan bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai instrumen pencari kerja. Menurutnya, ilmu agama memiliki manfaat jangka panjang bagi pendidikan generasi mendatang. Namun, ia tidak menampik adanya ketimpangan antara kurikulum saat ini dengan realita kebutuhan pasar di lapangan.
“Kalau memang tidak sesuai dengan dunia kerja, kenapa tidak mengubah kurikulum agar mahasiswa itu dididik untuk menciptakan inovasi dan lapangan kerja sendiri?” ujar Auliya, Sabtu (9/5).
Aulia menambahkan bahwa lulusan keislaman sangat krusial untuk mengisi posisi tenaga pendidik agama dan ahli fikih yang tidak bisa digantikan oleh lulusan umum. Ia menjabarkan bahwa mayoritas mata kuliah mengajarkan bidang ilmu syariah, Bahasa Arab dan Ilmu Ushuluddin.
Di sisi lain, mahasiswa Prodi Ilmu Tasawuf semester enam, Sri Ayu Indah Lestari, Berpendapat bahwa prodi Tasawuf cukup relevan dengan pasar pekerjaan saat ini. Ia melihat celah unik pada aspek kesehatan mental. Ia menilai ilmu yang ia pelajari memiliki irisan dengan psikologi, khususnya dalam menangani kondisi jiwa manusia. Meskipun secara administratif prodi keislaman sering dipandang sebelah mata dalam lowongan pekerjaan.
Indah melanjutkan, kekhawatiran mengenai peluang kerja juga diungkapkan oleh mayoritas mahasiswa Prodi keislaman. Sektor pendidikan masih menjadi tujuan utama, namun keterbatasan formasi di instansi keagamaan seperti Kementerian Agama atau Badan Sertifikasi Halal membuat persaingan semakin ketat.
”Dosen-dosen aku sama kating tuh selalu bilang kerja sekarang bisa di mana saja, yang penting S1 sama punya skill,” ujarnya, Jumat (8/5).
Menurut Indah, kebutuhan penambahan materi soft skill maupun hard skill seperti penguasaan Excel, coding, hingga manajemen waktu dianggap perlu dimasukkan ke dalam kurikulum perkuliahan agar lulusan lebih kompetitif.
“Harapannya Prodi keislaman tidak dihapus. Melainkan diperkuat dengan pelatihan praktis tanpa menghilangkan esensi nilai-nilai spiritual yang menjadi pondasi tangguh secara mental dan teknis saat menghadapi dunia profesional yang serba cepat,” harapnya.
Reporter : Nikita Earlene Salsabila |Editor : Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
