Dongkrak Mutu Aktivis Kampus, Muhammad Naufal Waliyyuddin, S.Sos Bedah Manajemen Organisasi di Leadership Camp Ormawa
Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online - Rangkaian kegiatan Leadership Camp Organisasi Mahasiswa (Ormawa) tingkat Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hari pertama turut menghadirkan materi yang penting bagi tata kelola organisasi. Muhammad Naufal Waliyyuddin, S.Sos hadir sebagai pemateri pada Selasa (19/5) untuk membedah tema Manajemen Organisasi: Membangun Efektivitas dan Pertumbuhan di Hotel Bells Place, Sentul, Kabupaten Bogor.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Tim Kemahasiswaan UIN Jakarta ini berlangsung selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Mei 2026. Pelatihan intensif ini diikuti oleh para delegasi aktivis perwakilan Senat Mahasiswa (Sema), Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Otonom (LO) di tingkat universitas.
Dalam pemaparannya, Naufal yang merupakan demisioner dari Ketua LPM Institut 2023 dan Ketua Umum Forum UKM 2024 mengibaratkan, organisasi tanpa manajemen yang baik laksana kapal yang bergerak tanpa nahkoda dan kehilangan arah yang jelas. Manajemen organisasi bukan sekadar mengatur hal teknis, melainkan sebuah seni menciptakan sistem yang memungkinkan seluruh anggota bekerja lebih baik bersama demi mengoptimalkan waktu, tenaga, dan anggaran menuju visi yang sama.
Di hadapan para pengurus Ormawa, Naufal mengurai empat fungsi dasar manajemen yang wajib diimplementasikan, yakni perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengendalian (controlling). Ia juga menekankan bahwa efisiensi organisasi sangat dipengaruhi oleh ketepatan dalam memilih struktur organisasi, baik model hierarki, matriks, datar (flat), maupun berbasis tim, yang harus disesuaikan dengan kebutuhan ruang gerak.
Naufal membeberkan bahwa akar dari sebagian besar konflik internal organisasi bersumber dari pola komunikasi yang buruk. Oleh karena itu, pemimpin Ormawa dituntut untuk bersikap visioner, komunikatif, kolaboratif dan adaptif dalam menghidupkan saluran komunikasi vertikal, horizontal, maupun diagonal guna meningkatkan kepercayaan dan produktivitas.
"Tantangan terbesar aktivis saat ini adalah pengambilan keputusan di bawah tekanan waktu, bias kognitif, dan informasi yang berlebih. Pemimpin yang hebat harus mampu mengidentifikasi masalah secara akurat dan mengevaluasi alternatif risiko secara matang," urainya.
Selain manajemen organisasi, Naufal juga menyoroti pentingnya membangun budaya organisasi yang kuat melalui nilai inti, norma sosial, serta ritual penghargaan. Naufal menyebutkan bahwa budaya yang sehat secara nyata mampu meningkatkan loyalitas dan produktivitas anggotanya secara signifikan.
Tak hanya itu, Naufal menjelaskan bahwa manajemen organisasi berguna untuk mengetahui apa kebutuhan organisasi, bukan hanya keinginan organisasi. Menurutnya, banyak organisasi menjalankan program berdasarkan keinginan bukan kebutuhan, padahal seharusnya organisasi bergerak sesuai kebutuhan yang berdasar pada kebutuhan internal maupun kondisi eksternal.
“Jika diibaratkan menggunakan logika matematika, target organisasi adalah 10, saat ini organisasi dikondisi 4, maka yang dibutuhkan adalah jumlah 6 bukan 10 ataupun 20. Untuk memperoleh jumlah 6 pun bisa dengan cara masing-masing asalkan sesuai kebutuhan,” ungkapnya.
Menutup sesi, Naufal mengingatkan bahwa perubahan di lingkungan kampus adalah hal yang pasti. Pengurus Ormawa diharapkan mampu mengelola resistensi dan beradaptasi menggunakan pendekatan taktis, salah satunya lewat Model Kotter (8 langkah perubahan) serta terus memupuk toleransi terhadap eksperimen ide-ide baru yang terukur.
"Manajemen organisasi yang efektif bukan tentang mengendalikan setiap detail secara kaku, melainkan bagaimana kita membangun sistem, kultur yang kuat, komunikasi terbuka, serta orang-orang yang adaptif untuk bergerak bersama mencapai tujuan," pungkas Naufal.
Reporter: Ahmad Ivan Abid Nugroho |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
