EDUKASI KRISIS IKLIM: KAMPUNG UKM UNDANG GREENPEACE DAN CLIMATE RANGERS DI HADAPAN MABA
Hall Student Center, Berita Kemahasiswaan Online – Kampung UKM mengundang Greenpeace dan Climate Rangers untuk memberikan edukasi mengenai krisis iklim serta isu lingkungan hidup kepada mahasiswa baru (maba) sebagai audiens utama. Kegiatan yang menjadi ajang pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan UIN Jakarta ini dimanfaatkan untuk membuka wawasan serta membangun kesadaran kritis generasi muda terkait dinamika krisis ekologis.
Dalam pemaparannya, Novia dari Komunitas Climate Rangers menekankan pentingnya keadilan fiskal di sektor lingkungan. Menurutnya, industri fosil yang memberikan dampak kerugian lingkungan secara sistemik seharusnya bertanggung jawab penuh dan membiayai pemulihan krisis tersebut.
"Beban krisis ini tidak seharusnya ditanggung oleh rakyat yang tidak terlibat langsung di industri fosil. Kami memperjuangkan keadilan fiskal agar pihak industri lah yang membayar krisis ini melalui prinsip polluters pay," ujar Novia.
Sementara itu, perwakilan dari Greenpeace, Gilang, menyoroti perbedaan mendasar antara aksi individu dan pembenahan masalah struktural. Menurut Gilang, perubahan perilaku konsumsi memang penting, tetapi tidak cukup untuk menghentikan krisis iklim jika tidak diiringi komitmen tegas dari korporasi besar dan pemegang kebijakan.
"Ada masalah struktural yang tidak bisa diselesaikan oleh kita secara individu, tetapi oleh yang memiliki kewenangan. Poluter besar sering menuntut masyarakat mengubah gaya hidup, tetapi di sisi lain mereka terus membakar batu bara dan enggan bertransisi ke energi terbarukan," tegas Gilang.
Ia juga memaparkan fenomena "lingkaran setan" dari krisis iklim yang dipicu oleh tingginya emisi akibat deforestasi, pembukaan lahan gambut, serta ketergantungan pada bahan bakar fosil. Emisi tersebut memicu lonjakan suhu bumi dan cuaca ekstrem, seperti kemarau berkepanjangan yang berujung pada kebakaran hutan yang pada akhirnya melepaskan emisi lebih besar lagi ke atmosfer.
Terkait keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kota besar seperti Jakarta, kedua narasumber sepakat bahwa RTH sangat krusial dari sisi ekologis maupun psikologis. Kendati demikian, mereka menyuarakan agar para mahasiswa baru tidak terjebak pada solusi yang bersifat simbolis semata, melainkan terus mengawal kebijakan pemerintah dan mengawasi industri demi terwujudnya penanganan krisis iklim yang substantif.
Reporter: Rahadi Rahmaddianto | Editor: Rakhma Imamatul Ummah | Publisher: Ahmad Syafi'i
Penanggung Jawab: Prof. Ali Munhanif, M.A., Ph.D
Producer Advisor: Muhammad Furqon, S.Pd.I., M.A., Samsudin, S.Kom, Muhammad Adam Camubar, S.E., Sisca Nofianti, SEI
Dokumentasi:

