Gandeng PSGA, DEMA Universitas Siapkan Langkah Strategis Perangi Predator Seksual di Lingkungan Kampus
Gedung Kemahasiswaan UIN Jakarta, Berita Online Kemahasiswaan - Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) UIN Jakarta menyatakan komitmen penuh dalam merespon dan memberantas maraknya kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Dema-U memiliki departemen yang berfokus pada pemberdayaan perempuan bernama Departemen Pemberdayaan Perempuan. Melalui departemen tersebut DEMA-U tengah menyusun langkah strategis mulai dari edukasi preventif hingga perbaikan alur pelaporan yang berpihak pada korban.
Ketua DEMA-U UIN Jakarta 2026, Achmad Hafizh menegaskan, penanganan kekerasan seksual merupakan fokus utama organisasi saat ini. pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) guna mengawal isu-isu gender dan memastikan partisipasi aktif mahasiswa perempuan dalam menciptakan ruang aman. Hafizh menilai karakteristik media sosial saat ini seringkali disalahgunakan sehingga memicu peningkatan kasus kekerasan seksual di dalam maupun luar lingkungan kampus.
“Kita perlu melihat dari dua perspektif dan tidak bisa menilai dari satu sudut pandang saja. Kita harus tahu poin-poin apa saja yang melanggar etik. Terkait pencegahan, kami sudah ada wacana untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) yang lebih aktif di tingkat fakultas karena selama ini fungsinya dinilai masih vakum,” ujar Hafizh pada Kamis (23/4/2026).
Lebih lanjut, Hafizh menjelaskan bahwa DEMA-U sedang menyiapkan buklet edukasi yang akan dibagikan kepada mahasiswa baru saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Buklet tersebut berisi indikator kekerasan seksual, penyebab terjadinya serta panduan alur pelaporan bagi korban. Ia mendesak pihak universitas, khususnya PSGA untuk lebih proaktif dalam bersosialisasi karena sejauh ini masuk banyak mahasiswa yang belum mengetahui keberadaan lembaga tersebut.
Senada dengan Hafizh, Sekretaris DEMA-U, Andreano Hardjito mengungkapkan keprihatinannya atas fenomena kekerasan seksual yang melibatkan berbagai elemen kampus, termasuk oknum tenaga pendidikan dan dosen. Menurutnya, kampus seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa nyaman bagi mahasiswa untuk menempuh pendidikan.
“Sikap kita adalah selalu mendukung korban tanpa melihat siapa pun korbannya dan kita menghardik pelaku siapapun pelakunya. Kita juga melihat ada budaya tongkrongan yang bercandanya seksis. Ini harus ada reformasi pola pikir bahwa hal tersebut tidak bisa dinormalisasikan,” tegas Andreano pada Sabtu (2/5/2026).
Andreano menambahkan bahwa DEMA-U menjunjung tinggi nilai akuntabilitas, transparansi dan integritas dalam setiap penanganan kasus. Pihaknya memastikan kerahasiaan identitas korban tetap terjaga.
“Dengan sistem pelaporan yang transparan dan sistematis hingga tingkat fakultas, tidak ada lagi “predator” yang merasa aman melakukan aksinya di lingkungan UIN Jakarta,” harapnya.
Reporter : Nikita Earlene Salsabila Editor : Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
