Jusuf Kalla Ingatkan Pentingnya Pemahaman Sebelum Bertindak
Auditorium Harun Nasution, Berita Kemahasiswaan Online — Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, menyampaikan pidato kunci dalam The Asian Islamic Universities Association (AIUA) International Seminar and The 15th Annual General Meeting di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, Rabu (24/06/2026). Mengusung topik "Islamic Leadership and Peacebuilding in a Fragmented Global Order", ia memaparkan ironi sejarah Islam yang penuh konflik serta pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemajuan umat Islam di tengah dunia yang terfragmentasi.
Jusuf Kalla mengawali pidatonya dengan menyoroti fakta bahwa sebagian besar konflik dunia terjadi di negara-negara Islam. Ia menyebutkan konflik Iran-Irak, konflik Yaman antara Houthi dan Saudi, pPerang saudara di Sudan, konflik Suriah dengan ISIS, serta pertikaian Pakistan dengan Afghanistan.
Ia juga menyentuh sejarah Islam yang sejak awal memang diwarnai konflik. Mulai dari masa setelah wafatnya Rasulullah, para pemimpin setelahnya meninggal karena dibunuh. Kemudian pada masa Ali terjadi konflik seperti perang Jamal hingga perang Shiffin.
"Sejarah Islam memang penuh dengan konflik sejak awal. Padahal tiap hari kita mengucapkan “Assalamu'alaikum,” yang berarti salam, yang berarti kedamaian, mendoakan keselamatan dan kedamaian untuk semua," katanya.
Menurut Jusuf Kalla, akar konflik di negara-negara Islam tidak hanya karena faktor agama, tetapi juga kepentingan ekonomi, ketidakadilan, kepentingan suku, dan campur tangan asing yang sulit dihindarkan.
"Apabila kita ingin maju agar Islam bisa berdaya, harus menguasai teknologi, sama dengan Iran yang berhasil melawan Amerika Serikat dan Israel. Iran mengejutkan dunia, dia bisa mengalahkan negara terbesar dalam persenjataan. Ilmu itu adalah bagian dari budaya yang menyebabkan bangsa menjadi kuat," ujarnya.
Ia juga menyoroti model Islam Asia Tenggara yang toleran dan damai. Menurutnya, Islam di kawasan ini disebarkan oleh para pedagang, bukan melalui peperangan atau paksaan. Dan menurutnya, Indonesia dan Malaysia dapat menjadi contoh bagi dunia dalam membangun Islam yang moderat dan wasathiyyah.
Jusuf Kalla juga menyampaikan tiga syarat kepemimpinan Islam dalam perdamaian: negara yang maju, mengetahui harga diri dan harga negosiasi, serta memahami masalah dengan tepat.
Di akhir pidato, ia menekankan pentingnya membaca dan memahami akar masalah sebelum bertindak. Jangan langsung ikut campur tanpa punya pengetahuan tentang hal tersebut.
Reporter: Hafidz Wahyu Riyadi | Editor: Rakhma Imamatul Ummah| Fotografer: Muhammad Fatih dan Gandes | Publisher: Ahmad Syafi'i
Dokumentasi:

