Keluar dari Zona Nyaman, Wisudawan Pipit Fikriyani Maksimalkan Potensi melalui UKM, Magang, dan Konservasi Lingkungan
Gedung Kemahasiswaan, Cerita Mahasiswa - Berawal dari kebiasaan membantu orang tua berjualan nasi goreng dan menjalani pendidikan di lingkungan pesantren, Pipit Fikriyani, wisudawan Program Studi Studi Agama-Agama angkatan 2021 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang lulus pada wisuda ke-140, berhasil keluar dari zona nyamannya dan aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan. Selama hampir lima tahun menjalani perkuliahan, Pipit tidak hanya fokus pada kegiatan akademik, tetapi juga aktif memperkaya pengalaman melalui berbagai aktivitas kemahasiswaan. Ia terlibat dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), program konservasi lingkungan, kegiatan penelitian, program magang, hingga pekerjaan remote yang turut membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan profesionalismenya.
Mahasiswa yang berasal dari keluarga sederhana tersebut mengaku bahwa pengalaman hidup yang dijalaninya sejak kecil menjadi bekal penting dalam membentuk karakter mandiri dan pekerja keras.
“Berbeda dengan sebagian besar anak yang menghabiskan masa liburan sekolah untuk berwisata bersama keluarga, saya lebih sering menghabiskan waktu di rumah dengan membantu orang tua berjualan nasi goreng,” ujarnya, Kamis (4/6).
Selain itu, latar belakang pendidikan pesantren yang ditempuh sejak SMP hingga SMA turut membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan cenderung introvert. Namun, ketika memasuki dunia perkuliahan, Pipit memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba berbagai pengalaman baru yang dapat membantunya berkembang.
“Saya bertekad menjadi mahasiswa yang aktif, berani menghadapi tantangan, serta membuka diri untuk bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan dan internship,” katanya.
Keputusan tersebut membawanya bergabung dengan UKM KPA Arkadia, organisasi pecinta alam yang menjadi salah satu wadah paling berpengaruh dalam proses pengembangan dirinya selama kuliah. Melalui organisasi tersebut, Pipit memperoleh berbagai pengalaman yang sebelumnya belum pernah ia temui selama masa sekolah, mulai dari kegiatan pendidikan lingkungan, konservasi, hingga aktivitas lapangan yang menantang.
Selain aktif di UKM, Pipit juga mengikuti program magang di bidang kemahasiswaan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas diri. Pengalaman ini menjadi langkah awal baginya dalam mengenal dunia kerja profesional sekaligus mengembangkan keterampilan komunikasi, administrasi, pelayanan mahasiswa, dan pengelolaan konten digital.
“Program magang memberikan kesempatan bagi saya untuk mempelajari dunia kerja, meningkatkan keterampilan komunikasi dan administrasi, serta memperluas wawasan melalui interaksi dengan berbagai pihak,” tuturnya.
Pipit memilih melanjutkan pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta karena melihat kampus tersebut mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan modern. Menurutnya, lingkungan akademik yang beragam dan terbuka menjadi ruang yang tepat untuk mengembangkan diri, baik secara intelektual, spiritual, maupun sosial.
“Berkuliah di UIN memberikan kesempatan bagi saya untuk bertemu dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang sehingga dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan yang majemuk,” ungkapnya.
Salah satu pengalaman organisasi yang paling berkesan bagi Pipit adalah ketika ia dipercaya sebagai Ketua Panitia Ekspedisi Transplantasi Karang di Pulau Pramuka yang diselenggarakan oleh UKM Arkadia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kegiatan tersebut merupakan program konservasi lingkungan yang berfokus pada upaya pelestarian ekosistem laut melalui transplantasi terumbu karang. Bagi Pipit, pengalaman ini menjadi momen berharga karena memberinya kesempatan untuk berkontribusi secara langsung dalam pelestarian lingkungan sekaligus mengasah kemampuan kepemimpinan, koordinasi tim, dan manajemen kegiatan lapangan.
Selain itu, Pipit juga memperoleh kesempatan mewakili UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam kegiatan Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) Forum Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah. Dalam forum nasional tersebut, ia terlibat dalam pembahasan berbagai isu lingkungan sekaligus berinteraksi dengan aktivis lingkungan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Tidak hanya itu, ia juga mengikuti kegiatan eksplorasi bawah laut di kawasan Donggala, Sulawesi Tengah. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai keanekaragaman hayati laut Indonesia, khususnya kondisi terumbu karang dan populasi ikan hias yang menjadi bagian penting dari ekosistem pesisir.
“Pengalaman-pengalaman tersebut semakin memperkuat komitmen saya untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya.
Keterlibatannya dalam kegiatan lingkungan tidak berhenti di sana. Pipit juga aktif dalam kegiatan penelitian dan pendidikan lingkungan bersama UKM KPA Arkadia di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Selain itu, ia pernah menjadi relawan dalam kegiatan konservasi lingkungan yang melibatkan berbagai instansi, termasuk Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian.
Di tengah berbagai aktivitas tersebut, Pipit harus menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara perkuliahan, organisasi, program magang, dan pekerjaan remote yang dijalaninya. Menurutnya, tantangan terbesar muncul ketika beberapa tanggung jawab harus diselesaikan dalam waktu yang hampir bersamaan.
“Ada kalanya jadwal perkuliahan, agenda organisasi, target pekerjaan magang, dan pekerjaan remote memiliki tenggat waktu yang berdekatan sehingga menuntut saya untuk dapat mengelola waktu dan energi dengan baik,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pipit menerapkan manajemen waktu dengan menyusun prioritas berdasarkan tingkat urgensi dan tenggat waktu setiap kegiatan. Ia juga membiasakan diri membuat daftar tugas harian dan mingguan agar seluruh pekerjaan dapat diselesaikan secara terstruktur.
Meskipun memiliki banyak aktivitas, ia menegaskan bahwa studi tetap menjadi prioritas utama. Menurutnya, keterlibatan dalam UKM, magang, dan pekerjaan remote bukanlah penghambat proses akademik, melainkan sarana untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, komunikasi, manajemen waktu, dan profesionalisme yang akan dibutuhkan di dunia kerja.
Pipit menilai bahwa perkembangan dirinya selama kuliah tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Baginya, UKM, tempat magang, dosen, teman, dan lingkungan kampus memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter dan kompetensi yang dimilikinya saat ini.
“Proses pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman, interaksi, dan berbagai kesempatan yang diberikan oleh lingkungan sekitar,” ujarnya.
Menurut Pipit, manfaat utama mengikuti UKM dan magang adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkembang secara lebih komprehensif. Perkuliahan memberikan dasar pengetahuan dan teori, sementara organisasi dan magang menjadi ruang untuk menerapkan kemampuan tersebut dalam situasi nyata.
“UKM dan magang menjadi wadah untuk menerapkan serta mengembangkan kemampuan yang diperoleh selama perkuliahan dalam kehidupan nyata,” katanya.
Ke depan, Pipit berencana mengimplementasikan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperolehnya selama masa perkuliahan ke dalam dunia kerja profesional. Ia juga memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister melalui program beasiswa apabila memperoleh kesempatan.
Selain itu, ia berharap dapat menggabungkan pengalaman di bidang konservasi lingkungan dengan kemampuan komunikasi digital yang diperoleh selama menjalani program magang. Menurutnya, pelestarian lingkungan tidak hanya membutuhkan aksi nyata di lapangan, tetapi juga edukasi yang mampu menjangkau masyarakat luas melalui media digital.
“Saya ingin mengemas isu-isu lingkungan menjadi konten yang informatif, menarik, dan mampu menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi muda yang sangat dekat dengan platform digital,” tuturnya.
Pipit berpesan kepada mahasiswa agar tidak ragu untuk keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan masa kuliah sebagai kesempatan untuk belajar, berkembang, serta membangun pengalaman yang bermanfaat bagi masa depan.
“Perkuliahan bukan hanya tentang memperoleh nilai yang baik, tetapi juga tentang membangun pengalaman, relasi, dan keterampilan yang akan menjadi bekal di masa depan. Jangan takut mencoba hal-hal baru dan manfaatkan setiap kesempatan yang ada,” pesannya.
Reporter: Salsabila Azahra |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
Dokumentasi:

