Ketua Ombudsman RI Bekali Mahasiswa Baru dengan Tiga Pilar Integritas
Ketua Ombudsman RI Bekali Mahasiswa Baru dengan Tiga Pilar Integritas

Lapangan Utama UIN Jakarta, Berita Kemahasiswaan Online Ketua Ombudsman Republik Indonesia, Nuzran Joher S.Ag., M.Si., menyampaikan pentingnya membangun integritas mahasiswa sebagai generasi muda yang peduli, berani, dan berkeadilan dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Jakarta 2026, yang diselenggarakan pada Rabu (26/8/2026).

Hadir dalam kegiatan PBAK tersebut diantaranya ialah Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., beserta jajaran pimpinan universitas, Ketua Panitia PBAK 2026, Dr. Aktobi Ghozali, M.A., Panitia PBAK Universitas maupun Fakultas, serta lebih dari 4.500 mahasiswa baru UIN Jakarta 2026.

Melalui keynote speech yang Nuzran bawakan, ia mengajak mahasiswa baru menjadi generasi yang cerdas dalam teknologi, peduli terhadap lingkungan, serta menjunjung nilai kemanusiaan. Menurutnya, mahasiswa baru tidak lagi hanya menjadi penerima ilmu, tetapi memiliki tanggung jawab sebagai agent of change dan guardian of value bagi bangsa.

“Kalian bukan lagi sekedar siswa yang pasif menerima ilmu. Melainkan resmi menjadi mahasiswa pemberi arah, agent of change atau agen perubahan, serta menjadi guardian of value bagi bangsa ini,”

Terdapat tiga pilar utama yang ditekankan oleh Nuzran, yaitu peduli (care), berani (brave), dan berkeadilan (justice). Ketiga nilai tersebut menjadi bekal mahasiswa agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dalam hal ini, mahasiswa ditekankan untuk peduli terhadap lingkungan, berani menyampaikan kebenaran, serta memperjuangkan hak masyarakat.

Pada aspek kepedulian, Nuzran mendorong mahasiswa UIN Jakarta untuk tidak bersikap egois maupun abai terhadap lingkungan sekitar. Ia mengajak mahasiswa memulai kepedulian melalui tindakan sederhana di lingkungan kampus, seperti menghemat energi, mengurangi penggunaan plastik, serta menjaga kelestarian lingkungan.

Selain kepedulian terhadap lingkungan, ia juga mengingatkan mahasiswa agar memiliki kepekaan terhadap pelayanan publik. Dalam hal ini, keberanian menjadi bagian atau poin utama. 

Para mahasiswa diharapkan mampu membedakan hal yang benar dan salah serta berani menyuarakan kebenaran, termasuk dalam lingkungan akademik.

“Integritas membutuhkan keberanian. Kalian harus berani mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah. Jika kalian melihat ada pelayanan kampus yang berbelit-belit atau ada hak mahasiswa yang dilanggar, jangan diam,” ujarnya.

Sementara itu, nilai keadilan menurut Nuzran tidak hanya sebatas aturan tertulis, tetapi harus dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat. Ia mendorong mahasiswa menjadi generasi inklusif yang menjunjung nilai kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang.

Dalam pemanfaatan teknologi, para mahasiswa diingatkan agar mampu menggunakan inovasi sebagai sarana memperkecil kesenjangan, bukan memperluas ketidakadilan.

Reporter: Arini Aisyah Putri Bambang | Editor: Rakhma Imamatul Ummah | Fotografer: Muhammad Zaky Al Fatih | Publisher: Dini Azzahra

Penanggung Jawab: Prof. Ali Munhanif, M.A., Ph.D
Producer Advisor: Muhammad Furqon, S.Pd.I., M.A., Samsudin, S.Kom, Muhammad Adam Camubar, S.E., Sisca Nofianti, SEI

Dokumentasi:

nurzan joher-7