Kisah Alumnus LDK Syahid UIN Jakarta, Ida Ruspita Sukses Jadi Content Creator dan Tembus Google HQ Singapura
Kisah Alumnus LDK Syahid UIN Jakarta, Ida Ruspita Sukses Jadi Content Creator dan Tembus Google HQ Singapura

Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online Lulusan Program Studi (Prodi) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Jakarta, Ida Ruspita, sukses meniti karier gemilang sebagai content creator edukasi dengan meraup lebih dari 50 ribu pengikut di media sosial Instagram. Kepiawaiannya meramu konten media sosial tidak hanya mengantarkannya menjadi trainer untuk korporasi besar seperti TVRI dan Pocari Sweat, tetapi juga membawanya menembus lima besar Top Content Creator hingga diundang secara eksklusif berdiskusi di markas besar Google Asia Pasifik, Singapura.

Ida Ruspita yang akrab disapa dengan Ida mengutarakan, sejak tahun 2018, ia sebenarnya sudah rutin membuat konten organisasi melalui platform “Komuniasik”. Namun, ia baru benar-benar serius merintis karier sebagai content creator untuk akun pribadi pada awal 2024 setelah lulus kuliah, tepatnya saat ia sedang bekerja sebagai Social Media Specialist di Non-Governmental Organization (NGO) untuk disabilitas, Alunjiva Indonesia.

Ida turut mengatakan, latar belakang pendidikannya sangat berkaitan erat dengan dunia content creator. Di kampus, ia banyak diajarkan teori tentang cara memproduksi tulisan yang bagus, membuat konten media cetak maupun daring, serta meriset materi secara matang. Selain aktif di akademik, ia juga aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid. Di LDK Syahid melalui Bidang Media, ia belajar mempraktikkannya secara langsung karena dituntut untuk bisa mendesain dan membuat konten demi kebutuhan organisasi.

Menurut Ida, nilai terpenting yang ia dapat dari LDK Syahid adalah integritas yang menjadikan dirinya pribadi jujur dan bertanggung jawab penuh dalam menyelesaikan setiap job desk yang dimiliki. Sikap pertanggungjawaban inilah yang langsung membentuk jiwa profesionalisme dirinya saat masuk ke dunia kerja.

“Peran dari keduanya sangatlah besar dalam mengembangkan soft skill maupun hard skill saya,” ucapnya saat diwawancarai pada Rabu, (20/5).

Ida mengungkapkan, fokus kontennya ialah edukasi, khususnya membagikan tip dan trik seputar media sosial. Sasaran audiens utamanya adalah orang yang ingin terjun berkarier di bidang media sosial, baik sebagai social media specialist maupun content creator pemula. Meski begitu, tak jarang ia menemui berbagai tantangan. Tantangan utama berasal dari pengendalian diri untuk selalu konsisten dan pandai membaca tren soal apa yang dibutuhkan audiens. 

Ida melanjutkan, cara terbaik untuk bertahan menghadapi fluktuasi algoritma adalah dengan memiliki pemahaman kuat mengenai tujuan awal yang ingin dibagikan di media sosial. Tanpa pegangan fondasi tersebut, Ida berkata, kita akan gampang terbawa arus untuk asal mengikuti semua tren.

Lebih lanjut, ia menceritakan, tantangan mencapai 50 ribu pengikut Instagram itu ditembus lewat disiplin dan konsistensi satu hari mengunggah satu konten. Pada fase awal, ia memprioritaskan kuantitas dengan menyisihkan waktu 30 hingga 60 menit sehari untuk memproduksi video pendek 5–15 detik berprinsip “sebisanya dulu dan tidak perfeksionis”, lalu menjabarkan materinya pada takarir. 

Ida menambahkan, setelah kebiasaan konsisten terbangun, barulah ia secara perlahan meningkatkan kualitas pada editing, copywriting, hingga pengambilan gambar. Dengan begitu, respons audiens pun beragam. Konten edukasi yang dibagikan menuai respons positif karena audiens merasa sangat terbantu untuk memulai personal branding dan meningkatkan kemampuan digitalnya. Sementara itu, untuk menghadapi respons negatif yang tak terhindarkan, Ida memilih bersikap selektif dengan mengevaluasi kritik seputar isi konten dan mengabaikan komentar yang tidak relevan.

“Alasan utama saya memilih jalur karier ini adalah cita-cita untuk bisa selalu bermanfaat bagi orang lain, tetapi tetap sejalan dengan skill yang saya miliki seperti editing dan keahlian media sosial. Selain mendatangkan kebahagiaan saat menerima pesan terima kasih, profesi ini luar biasa menarik karena membuka pintu ke peluang karier di perusahaan impian, potensi usaha, serta membangun relasi yang ber-value,” ujarnya.

Mengenai pencapaian, ia menyampaikan, pencapaian terbesarnya salah satunya keberhasilan membuka Private Class Content Creator untuk membantu banyak orang sekaligus mengoptimalkannya sebagai sumber penghasilan. Selain itu, ia dipercaya bekerja sama menjadi pengisi acara serta trainer internal untuk brand-brand besar seperti TVRI, Pocari Sweat, dan Skintific. Tak hanya itu, ia juga berhasil menembus lima besar Top Content Creator wilayah Jakarta dalam ajang Girls Beyond YouTube Academy oleh Female Daily x YouTube yang memfasilitasinya berangkat ke Singapura secara gratis.

Ida menceritakan, momen berkunjung ke Google HQ Singapura menjadi pembuka mata yang luar biasa, khususnya ketika dirinya berdiskusi secara langsung dengan Vice President Google Asia Pasific mengenai siasat menghadapi algoritma. Berkat perjalanan itu, ia menyadari betul bahwa terdapat banyak perusahaan berskala raksasa yang sangat menantikan dan menghargai ruang ekspresi serta dedikasi karya para content creator.

“Jadilah diri sendiri, miliki value, serta temukan keunikan,” pesannya.

Selain itu, ia juga berpesan untuk mahasiswa agar memaksimalkan waktu selama kuliah sebaik mungkin untuk mengasah skill, aktif berjejaring, dan ikut bertanggung jawab dalam organisasi karena hal-hal itulah yang akan membentuk jiwa profesionalisme nyata.

“Di samping itu, wajib temukan dan jadikan senior atau mentor sukses sebagai ‘kuda pacu’. Kuda pacu di sini adalah wujud motivasi sehat agar kalian dapat berkembang jauh lebih baik dari orang tersebut. Jangan mengurung pemikiran hanya pada diri kalian sendiri, beranilah berdiskusi untuk membuka perspektif dan melihat peluang dunia yang sangat luas di luar sana,” pungkasnya.

Reporter: Laila Nurrahma |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby