Latih Kader Inovatif, Zulfikar Ali Musa Kupas Followership di Leadership Camp UIN Jakarta
Gedung Kemahasiswaan, Berita Online Kemahasiswaan- Hari pertama pelaksanaan Leadership Camp Organisasi Mahasiswa (Ormawa) tingkat Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta turut membekali para aktivis dengan perspektif baru dalam roda organisasi. Zulfikar Ali Musa hadir sebagai narasumber pada Selasa (19/5) untuk menyampaikan materi mendalam bertajuk Effective Followership di Hotel Bells Place, Sentul, Kabupaten Bogor.
Agenda intensif yang diselenggarakan oleh Tim Kemahasiswaan UIN Jakarta ini berlangsung selama tiga hari, sejak 19 hingga 21 Mei 2026. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh delegasi perwakilan Senat Mahasiswa (Sema), Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Otonom (LO) di tingkat universitas.
Dalam awal pemaparannya, Zulfikar meluruskan persepsi keliru yang sering memandang sebelah mata peran seorang pengikut atau anggota. Mengutip pemikiran Robert Kelley, ia menegaskan bahwa pengikut sejatinya adalah pemimpin yang sedang berada dalam masa pelatihan (leader in training). Hubungan antara atasan dan bawahan dinilai hanyalah sebuah status hierarki, sementara menjadi pengikut yang baik membutuhkan kemauan serta kapasitas khusus.
"Organisasi adalah laboratorium karakter. Sifatnya adalah tempat untuk belajar, sehingga kesalahan atau kekhilafan di dalamnya masih sangat bisa dimaafkan. Namun, kerja sama yang sinergis antara pemimpin dan anggota mutlak diperlukan untuk menentukan keberhasilan capaian organisasi," papar Zulfikar.
Lebih lanjut, dalam upaya mendongkrak kualitas kader, Zulfikar mengurai lima tipe pengikut berdasarkan Kelley's Model of Followership untuk merefleksikan posisi para anggota di internal Ormawa saat ini. Ia menjelaskan tentang adanya tipe passive follower yang merujuk pada anggota pasif yang sama sekali tidak terlibat dalam kegiatan kerja organisasi.
Di sisi lain, Zulfikar menjelaskan, terdapat tipe alienated follower yang digambarkan sebagai anggota dengan kecenderungan berbicara negatif namun sesekali memiliki pemikiran yang di luar kotak (out of the box). Zulfikar juga menyebutkan tipe conformist follower yang merupakan sosok pengabdi setia organisasi yang cenderung selalu ikut tetapi tidak berani berbeda pendapat. Sementara itu, anggota oportunis yang tidak memiliki pendirian tetap diklasifikasikan ke dalam tipe pragmatic follower.
Terakhir, Zulfikar memaparkan tipe effective atau exemplary follower sebagai sosok ideal yang selalu berpikir positif, menelurkan pemikiran baru, berinisiatif, serta mampu bergerak secara mandiri.
Selain itu, Zulfikar juga membagikan langkah praktis untuk mengimplementasikan followership yang kuat. Anggota Ormawa dituntut untuk aktif membantu pemimpin dengan cara tidak segan meminta nasihat, berani menyampaikan isi pikiran secara jujur, serta pandai melihat hal-hal positif untuk diapresiasi dari sang pemimpin.
"Bangunlah hubungan dua arah yang sehat. Terima umpan balik dan kritik dengan lapang dada. Selaraskan diri dengan visi-misi tim, namun tetap pandang segala sesuatu secara realistis. Jangan sembunyikan masalah apa pun dari pemimpin, dan jangan mengkritik pemimpin Anda di depan orang luar," tegasnya.
Menutup sesi materi yang interaktif tersebut, Zulfikar mengutip pesan pahlawan bangsa B.J. Habibie, mengingatkan para aktivis UIN Jakarta bahwa hanya anak bangsa sendirilah yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia.
“Oleh karena itu, kapasitas kepemimpinan dan kesediaan menjadi pengikut yang efektif harus dipupuk secara matang sejak dini di bangku kuliah,” pungkasnya.
Reporter: Ahmad Ivan Abid Nugroho |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
