Lewat Novel, Mahasiswa Diajak Memahami Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

Gedung Kemahasiswaan, Rekomendasi Mahasiswa - Kehidupan mahasiswa seringkali tampak berjalan dengan baik dari luar, namun tidak sedikit mahasiswa yang sebenarnya sedang menghadapi berbagai tekanan mental selama menjalani perkuliahan. Tuntutan akademik, tugas yang terus bertambah, rasa kecewa, overthinking, hingga kecemasan menjadi tantangan yang cukup sering dialami mahasiswa.
Melansir dari pemberitaan kumparan disebutkan bahwa sekitar 41,5% hingga 54,7% mahasiswa di Indonesia mengalami gejala depresi akibat tekanan akademik, tuntutan keluarga, hingga persoalan finansial. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental menjadi hal yang penting agar mahasiswa dapat menjalani proses pendidikan secara optimal sekaligus menjaga keseimbangan dalam pengembangan diri.
Salah satu cara sederhana untuk memahami kesehatan mental adalah melalui membaca, salah satunya membaca novel. Tidak hanya menghadirkan cerita menarik, beberapa novel mampu memberikan refleksi emosional dan membantu pembaca memahami perasaan yang sulit diungkapkan. Melalui dinamika konflik dan pesan yang disampaikan, pembaca diajak belajar tentang menerima luka, mengelola emosi, hingga berdamai dengan keadaan hidup yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Rekomendasi novel pertama adalah Gemuruh karya Hilmi Faiq. Novel ini mengangkat cerita tentang rasa kecewa dan proses penyembuhan diri melalui perjalanan hidup serta pengalaman menghadapi berbagai tantangan. Melalui latar fenomena alam dan dunia fotografi, novel ini memberikan pesan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda untuk pulih dari luka emosional.
Selain itu, pembaca juga diajak memahami pentingnya keteguhan dalam menghadapi masalah hidup dan belajar menerima keadaan yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Novel ini cocok bagi mahasiswa yang sedang menghadapi tekanan emosional atau merasa kehilangan arah dalam proses perkuliahan maupun hidupnya.
Rekomendasi berikutnya, novel bertajuk Unfinished Goodbye: Ternyata Kita Belum Seselesai Itu karya Syahid Muhammad. Novel ini menggambarkan luka emosional yang lahir dari harapan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dengan gaya penulisan yang emosional dan dekat dengan realitas kehidupan, novel ini menghadirkan refleksi tentang kehilangan, rasa kecewa, dan sulitnya melepaskan sesuatu yang pernah berarti.
Novel ini memberikan pesan mengenai pentingnya menerima kenyataan dan berdamai dengan pengalaman masa lalu agar seseorang dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Selain itu, novel tersebut juga menggambarkan bahwa proses penyembuhan diri memerlukan waktu, penerimaan, serta kemampuan untuk memahami luka emosional yang dimiliki.
Rekomendasi terakhir, novel berjudul Rasa karya Tere Liye. Novel ini membahas berbagai emosi manusia, mulai dari marah, kecewa, sedih, hingga rasa kehilangan yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Melalui cerita yang dekat dengan realitas remaja dan mahasiswa, novel ini memberikan pesan tentang pentingnya penerimaan, memaafkan, dan berdamai dengan keadaan hidup.
Berbagai pesan yang disampaikan memberikan pembaca refleksi mendalam mengenai proses menerima luka dan melanjutkan hidup dengan lebih lapang. Novel ini mengajarkan bahwa tidak semua masalah harus dilupakan, tetapi setiap orang tetap dapat belajar memaafkan dan menerima keadaan agar kehidupan dapat dijalani dengan lebih tenang dan ringan.
Ketiga novel tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu mengajarkan pentingnya memahami emosi dan menjaga kesehatan mental. Gemuruh mengajarkan tentang proses bangkit dari rasa kecewa, Unfinished Goodbye menyoroti perjuangan menerima luka batin dan melepaskan masa lalu, sementara Rasa mengajarkan penerimaan, memaafkan, dan pentingnya berdamai dengan diri sendiri.
Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mahasiswa dapat belajar bahwa kesehatan mental bukan hal yang sepele. Perasaan sedih, kecewa, cemas, maupun kehilangan arah merupakan bagian dari proses hidup yang wajar dialami setiap orang. Mahasiswa diharapkan lebih mampu mengenali emosinya sendiri serta tidak ragu mencari cara untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan perkuliahan.
Reporter : Salsabila Azahra |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
