Lulus dengan IPK Sempurna, M. Khosyi Akhdan Sasongko Ungkap Rahasia Jadi Wisudawan Terbaik FSH UIN Jakarta
Lulus dengan IPK Sempurna, M. Khosyi Akhdan Sasongko Ungkap Rahasia Jadi Wisudawan Terbaik FSH UIN Jakarta

Gedung Kemahasiswaan, Cerita Mahasiswa - Muhammad Khosyi Akhdan Sasongko, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) angkatan 2022, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun dan meraih IPK sempurna 4,00. Capaian ini mengantarkannya menjadi salah satu wisudawan terbaik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari FSH pada Wisuda ke-140.

Khosyi mengatakan, capaian yang diraihnya merupakan hasil dari kebiasaan belajar yang konsisten. Sejak awal perkuliahan, ia selalu mencatat materi yang diberikan dosen, mengikuti kelas dengan saksama, serta mengulang kembali materi yang telah dipelajari guna memperkuat pemahamannya.

Khosyi menjelaskan, ia memulai dengan mencatat ilmu dari para dosen yang diberi melalui PPT serta perkataan yang diucapkan. Selanjutnya, ia rapikan catatan tersebut agar runtut dan enak untuk dibaca ketika sampai di rumah. 

“Menjelang UTS ataupun UAS, aku memakai metode repeated learning yaitu membaca berulang-ulang daripada sekedar menghafal,” ungkap Khosyi, Rabu (3/6).

Selain rajin mencatat materi, Khosyi juga berupaya membangun kedekatan dengan dosen melalui keaktifan di kelas, seperti duduk di barisan depan, aktif bertanya, dan menyapa dosen di luar perkuliahan. Menurutnya, hubungan yang baik dengan dosen dapat membuat proses belajar lebih bermakna dan menyenangkan, sehingga turut mendukung pencapaian akademik yang optimal. 

Bagi Khosyi, selain belajar berulang, ia juga mencoba agar para dosen bisa mengenaliku. Ia berprinsip untuk menjadi mahasiswa yang aktif di kelas. 

“Ketika dosen mengenali diri kita, maka diri kita sudah memiliki nilai lebih di matanya dibandingkan teman-teman yang lain. Hubungan chemistry terbangun, ilmu yang diberikan menjadi lebih berkah bagi kita, mengerjakan ujian menjadi lebih senang dan nilai A menjadi hasilnya,” ujarnya. 

Khosyi mengungkapkan bahwa ia memilih UIN Jakarta berdasarkan rekomendasi guru Bimbingan Konseling (BK) semasa SMA yang menilai kampus dan prodi tersebut sesuai dengan minat serta kemampuannya. Menurutnya, kunci menjalani perkuliahan dengan maksimal adalah mencintai apa yang ditekuni agar memiliki tujuan dan motivasi yang jelas. 

“Menjadi aktif itu pilihan, namun hal dasar yang harus kita tanam adalah mencintai perkuliahan. Ketika kita mencintai perkuliahan, maka akan terdorong jiwa untuk aktif di dalamnya. Dengan mencintainya, kita jadi memiliki target dan kekuatan untuk meraihnya,” ucapnya. 

Lebih lanjut, Khosyi menilai predikat wisudawan terbaik UIN Jakarta yang melekat pada dirinya tidak terlepas dari dukungan para dosen dan teman-temannya. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi selama perkuliahan, dukungan tersebut menjadi penyemangat baginya untuk terus berjuang mencapai prestasi yang diimpikan. 

“Perjalananku di sini mendapat banyak dukungan khususnya dari para dosen dan teman-teman di kampus. Berkat dikenali oleh para dosen, mereka banyak mendukungku, baik di kelas maupun di luar kelas. Terdapat nasihat pula yang mereka berikan kepadaku. Sehingga dukungan dari lingkungan perkuliahan menjadi hal berharga yang berhasil aku bangun untuk mencapai gelar ini,” jelasnya. 

Perjalanan Khosyi tidak berhenti di sini, setelah lulus dari UIN Jakarta ia berencana mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya dengan terjun ke dunia profesional di bidang hukum. Tak hanya itu, ia juga berencana melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, memperkaya pengalaman melalui program magang, serta mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

“Aku memiliki impian untuk melanjutkan S2 di bidang hubungan internasional untuk meneruskan S1 Hukum yang berkonsentrasi pada Hukum Internasional. Aku sedang mencari-cari pekerjaan dan juga magang berbayar di bidang legal dan human resource. Aku juga sembari mengikuti les tes CPNS agar nanti (bisa) memilih posisi hakim,” pungkasnya. 

Reporter: Alfiah Ziha Rahmatul Laili |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby

Dokumentasi:
men2