Lulus Tepat Waktu di Tengah Aktivitas Organisasi, Naufal Tekankan Skala Prioritas
Gedung Kemahasiswaan, Berita Online Kemahasiswaan - Muhammad Naufal Waliyyuddin, Wisudawan Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2021. Ia berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu empat tahun dan mengikuti wisuda ke-138 di Krakatau Grand Ballroom, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada Selasa, (2/12/25).
Sejak awal kuliah, Naufal bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut hingga menjadi pemimpin umum sekaligus merangkap pemimpin redaksi pada 2023. Tidak berhenti di situ, tahun 2024 ia menjadi ketua umum Forum UKM UIN Jakarta dan menjadi inisiator Internship Kemahasiswaan Batch 1.
Lebih lanjut, Naufal lulus dengan judul skripsi “Teknik Propaganda Politik Prabowo Gibran pada Pemilu 2024 dalam Perspektif Etika Komunikasi Islam melalui Instagram @tknfanta”. Selain itu, di dalam perjalanannya, Naufal juga mengikuti komunitas digital yakni Sinar Kreatif (Sinatif) dan magang di media Deduktif.id.
Menurut Naufal, kunci utama dalam menjaga keseimbangan antara kuliah dan organisasi adalah memahami skala prioritas. Ia menegaskan, akademik harus tetap menjadi prioritas utama, sementara organisasi berada pada urutan berikutnya.
“Ketika urusan akademik selesai, barulah urusan organisasi dikerjakan. Saya bukan tipe yang mengerjakan semuanya sekaligus, tapi harus satu per satu,” ujarnya pada Selasa, (2/12/25).
Selain itu, Naufal menyampaikan, lulus tepat waktu tidak hanya berkaitan dengan jumlah semester yang ditempuh. Baginya, kelulusan merupakan hasil dari konsistensi dalam menjaga tanggung jawab akademik sekaligus memanfaatkan pembelajaran dari kegiatan nonakademik. Dalam menyelesaikan akademiknya, ia menilai proses tersebut dapat berjalan efektif dan bermakna.
“Karena ketika kita sudah paham manajemen emosionalnya, seberat apapun tantangannya, tanggung jawab harus tetap diselesaikan. Itu seputar attitude, yang terutama adalah soal sikap, lalu yang kedua soal keilmuan,” ujarnya.
Di samping itu, Naufal menyebutkan organisasi bukan penghambat, tetapi penunjang dalam menyelesaikan akademik. Organisasi, baginya, tidak hanya mengasah kemampuan intelektual, tetapi merawat akal, dan mengurangi kebodohan.
“Karena itu, pengalaman tersebut turut membantu saya dalam menyelesaikan studi tepat waktu, meskipun masa studi yang saya tempuh sekitar empat tahun lebih sedikit,” tutur Naufal.
Sebagai penutup, Naufal berpesan kepada mahasiswa agar selektif dalam memilih organisasi dan menyesuaikannya dengan minat serta perkembangan zaman. Menurutnya, organisasi yang tidak relevan, tidak berkembang, atau memiliki lingkungan yang tidak sehat sebaiknya ditinggalkan, karena dapat menghambat perkembangan diri.
Naufal menambahkan, organisasi yang berkembang akan mendorong anggotanya ikut berkembang, sementara itu organisasi yang tidak berkembang berpotensi membuat anggotanya turut mengalami hambatan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu selektif dalam memilih organisasi yang relevan dengan kondisi saat ini, perkembangan zaman, dan kebutuhan dunia kerja.
“Organisasi yang tepat tidak hanya memberi pengalaman jangka pendek, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi pengembangan mahasiswa dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Reporter: Lulu Khoirun Nisa | Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin, De Karl Azzahra
Foto Dokumentasi: 







