Mahasiswa FDI UIN Jakarta Gagas Green Zakat di Konferensi Internasional MUTUN 2025
Mahasiswa FDI UIN Jakarta Gagas Green Zakat di Konferensi Internasional MUTUN 2025

Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online  - Dua mahasiswa semester 6 Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Muhammad Arsyad Fadhilaturrahman dan Nabiilah Ar Rasyidah, berhasil menembus konferensi artikel ilmiah di kancah internasional. Keduanya terpilih menjadi presenter dalam konferensi internasional Muktamar Turost Nabawi (MUTUN) yang diselenggarakan oleh Ma’had Aly Tebuireng pada Desember 2025 lalu. 

Konferensi tersebut bertajuk Eco-Sunnah and the Global Ecological Crisis: Formulating Islam’s Contribution Through Hadis and Sustainability Development Agenda (SDGs). Konferensi ini dihadiri oleh para akademisi dan peneliti dari berbagai negara seperti Indonesia, Pakistan, Sudan, hingga Malaysia.

Muhammad Arsyad Fadhilaturrahman menjelaskan, motivasi utama mereka mengikuti ajang ini adalah untuk membawa wajah baru studi Islam di kancah ilmiah. Dengan latar belakang pendidikan pesantren selama tujuh tahun, Arsyad ingin membuktikan bahwa ilmu agama memiliki keterkaitan erat dengan isu-isu kontemporer.

"Kami ingin menghidupkan integrasi antara ilmu terapan dengan ilmu agama yang selama ini sering dianggap tidak memiliki titik temu. Kami melihat bahwa Islamic Studies memiliki peluang besar untuk menunjang penelitian yang menjawab persoalan masyarakat secara sistematis berbasis pemikiran Islam," ujar Arsyad, Kamis (07/05/2026).

Selain itu, Arsyad juga menyampaikan, karya ilmiah yang mereka presentasikan mengangkat isu krusial mengenai implementasi Green Zakat sebagai solusi atas persoalan banjir rob di pesisir Demak. Mereka mengusulkan instrumen zakat berbasis lingkungan ini sebagai pembiayaan alternatif untuk pembangunan Hybrid Sea Wall yang membutuhkan biaya sangat besar. 

Senada dengan Arsyad, Nabiilah Ar Rasyidah yang memiliki konsentrasi di bidang fiqih dan ushul fikih syafiiyah, menambahkan, pemilihan kurikulum di FDI yang berafiliasi dengan Al-Azhar Cairo menjadi modal kuat bagi mereka untuk melakukan riset mendalam.

"Melalui konferensi ini, kami belajar menyusun argumen yang runut dan logis. Kemampuan menulis ilmiah ini sangat membantu tugas kuliah dan membuka peluang karier baru sebagai peneliti di bidang Islamic Studies yang mampu mengintegrasikan Islam dengan isu keberlanjutan global," ungkap Nabiilah, Kamis (07/05/2026).

Nabila menjelaskan, proses untuk mencapai panggung internasional ini memakan waktu sekitar dua bulan, mulai dari riset literatur, pengiriman abstrak, hingga penyempurnaan naskah akhir. Meski menghadapi tantangan seperti keterbatasan akses bimbingan dosen senior dan kendala bahasa saat berhadapan dengan audiens global, keduanya berhasil melewatinya dengan memanfaatkan literatur di Perpustakaan Umum UIN Jakarta. 

“Alhamdulillah, pencapaian kami ini membawa dampak nyata bagi kampus. Kami sangat bersyukur karena fakultas kini merespons positif dengan membentuk MIDRAS sebagai wadah resmi untuk mengembangkan potensi kepenulisan dan penelitian ilmiah bagi teman-teman mahasiswa lainnya," ujar Nabiila.

Di akhir sesi, keduanya berpesan kepada mahasiswa, khususnya yang berlatar belakang pesantren, agar tidak ragu terjun ke dunia riset. Mereka menekankan, mengikuti konferensi merupakan jalur alternatif dalam mendalami studi Islam selain menjadi ustaz atau kiai, sekaligus menjadi langkah awal yang strategis bagi calon akademisi untuk memperkenalkan Islam dengan perspektif ilmiah di kancah internasional. 

Reporter: Ahmad Ivan Abid Nugroho |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby