Mahasiswa Soroti Fenomena FOMO dalam Budaya Organisasi Kampus
Gedung Kemahasiswaan - Perspektif Mahasiswa Merujuk pada buku FOMO – Fear of Missing Out: Bijak Mengambil Keputusan di Dunia yang Menyajikan Terlalu Banyak Pilihan karya Patrick J. McGinnis, FOMO didefinisikan sebagai kondisi ketika seseorang merasa tidak nyaman karena menganggap orang lain memiliki pengalaman yang lebih baik dan menarik dibanding dirinya.
Melansir artikel dari Kompas.id yang berjudul “Mahasiswa Pilih Mana, Magang atau Organisasi?” sebagian mahasiswa mengikuti organisasi kampus karena pengaruh lingkungan pergaulan dan dorongan untuk mengembangkan diri. Fenomena ini terlihat dalam aktivitas organisasi kemahasiswaan, ketika mahasiswa berlomba mengikuti berbagai kegiatan untuk menambah pengalaman, relasi, serta kemampuan di luar perkuliahan.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Sejarah Peradaban Islam sekaligus anggota aktif Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fatahillah Researchers for Science and Humanity (Fresh), Muhammad Rifki Rosyadi menanggapi, fenomena tersebut dapat memberikan dampak berbeda bagi setiap individu, tergantung pada keseriusan dan tanggung jawab individu setelah bergabung dalam organisasi.
"Hal ini berdampak positif jika memacu tanggung jawab, namun menjadi buruk jika hanya ingin menumpang nama saja," ujar Rifki, Selasa (21/04).
Lebih lanjut, Rifki menjelaskan sejumlah organisasi mulai menerapkan aturan yang lebih terstruktur untuk memastikan keterlibatan anggota berjalan secara aktif dan bertanggung jawab. Salah satunya diterapkan oleh LO Fresh melalui sistem presensi kegiatan yang dilakukan secara disiplin. Menurutnya, sistem ini digunakan untuk melihat tingkat kehadiran dan komitmen anggota terhadap tanggung jawab organisasi yang telah disepakati bersama.
"Presensi diterapkan sebagai bentuk pembuktian, sejauh mana tanggung jawab anggota terhadap komitmen yang telah diambil," tegas Rifki.
Pandangan serupa disampaikan oleh mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam yang aktif di UKM Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid, Fani Nabila. Ia menilai fenomena FOMO masih terjadi di lingkungan mahasiswa karena adanya rasa takut tertinggal dari pencapaian maupun aktivitas yang dilakukan orang lain.
“Selain itu, FOMO juga muncul karena kita masih mencari jati diri dan belum tahu batasan yang wajar untuk diri sendiri,” ucap Fani, Selasa (21/04).
Menurut Fani, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental apabila tidak disikapi secara bijak. Menurutnya, mahasiswa yang terlalu memaksakan diri untuk mengikuti banyak kegiatan berisiko mengalami kelelahan fisik maupun tekanan psikologis seperti overthinking, dan rasa cemas berlebih.
"FOMO yang tidak sehat bisa membuat kita mudah cemas dan akhirnya kewalahan sendiri akibat terlalu memaksakan diri," ujar Fani.
Selain itu, Fani juga menilai organisasi kemahasiswaan dapat menciptakan budaya yang lebih sehat dengan menghargai batas kemampuan serta kapasitas masing-masing anggota. Menurutnya, keterlibatan dalam organisasi tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diikuti, tetapi juga dari konsistensi dan kualitas kontribusi yang diberikan.
“Organisasi harus menjadi ruang yang menghargai kemampuan setiap anggotanya, bukan hanya menuntut banyaknya keterlibatan,” pungkas Fani.
Reporter: Siti Julfa Fitriyah |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
