Mahasiswa UIN Jakarta Maknai Hardiknas sebagai Ruang Refleksi Pendidikan
Gedung Kemahasiswaan, Perspektif Mahasiswa - Barisan mahasiswa memenuhi lapangan kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam pelaksanaan upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Senin (2/5). Upacara yang berlangsung khidmat tersebut menjadi bagian dari peringatan tahunan yang diikuti civitas akademika.
Petugas Menwa UIN Jakarta sekaligus pemimpin upacara, Ibnu Bintang Satriawan, menilai bahwa kewajiban mengikuti upacara Hardiknas memiliki makna simbolik yang kuat. Menurutnya, momentum ini seharusnya menjadi sarana membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan, sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia.
“Upacara ini punya legitimasi simbolik, tapi kalau hanya dijalankan secara seremonial tanpa refleksi, nilai transformasinya jadi terbatas,” ujar Ibnu saat diwawancarai, Minggu (03/2/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, Novi Risna Wati, anggota Menwa yang bertugas sebagai pembawa baki dalam upacara, menilai bahwa Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada kegiatan formalitas. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif mahasiswa dalam memaknai momentum tersebut.
“Kalau cuma diwajibkan hadir tanpa memahami maknanya, wajar kalau mahasiswa merasa ini hanya formalitas. Harus ada kegiatan yang lebih bermakna seperti diskusi, seminar, atau aksi sosial,” ujar Nopi, saat diwawancarai, Minggu (03/4/2026).
Dalam konteks sistem pendidikan, Ibnu menyebutkan bahwa saat ini Indonesia berada dalam fase transisi menuju model pembelajaran yang lebih adaptif melalui Kurikulum Merdeka. Meski demikian, ia menilai masih terdapat sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur dan kesiapan tenaga pengajar.
Selain itu, Ibnu juga menyoroti ketimpangan yang masih dirasakan oleh peserta didik dari latar belakang ekonomi rendah dan wilayah tertinggal. Menurutnya, kelompok tersebut menjadi pihak yang paling terdampak dalam sistem pendidikan saat ini, terutama dalam hal akses dan kualitas pembelajaran.
Menanggapi peran mahasiswa, Nopi menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam sistem pendidikan. Ia menilai bahwa Hardiknas dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berpikir kritis dan menyuarakan berbagai persoalan pendidikan.
Terkait pelaksanaan kegiatan, Nopi menyebutkan bahwa peringatan Hardiknas tidak hanya dapat dilakukan melalui upacara formal, tetapi juga dapat diisi dengan kegiatan lain, seperti diskusi, seminar, aksi sosial, dan kegiatan literasi yang melibatkan mahasiswa.
Ibnu menambahkan bahwa keikutsertaannya dalam upacara sebagai bentuk refleksi atas peran mahasiswa dalam mengintegrasikan nilai keilmuan dan keislaman. Ia menegaskan bahwa pendidikan di UIN Jakarta tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan integritas moral dan spiritual.
“Ini juga bentuk komitmen bahwa mahasiswa tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat,” jelasnya.
Dalam konteks pendidikan non-akademik, Ibnu menegaskan peran penting kampus dan organisasi mahasiswa (Ormawa), termasuk Menwa, sebagai wadah pembentukan karakter. Ia menyebutkan bahwa melalui kegiatan organisasi, mahasiswa dapat mengembangkan kepemimpinan, kedisiplinan, serta rasa tanggung jawab.
“Pendidikan di kampus bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga bagaimana membentuk karakter yang siap menghadapi tantangan di masyarakat,” pungkas Ibnu.
Reporter: Dela Varisa |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
