Mahasiswa UIN Jakarta Soroti Efektivitas WFH dalam Pembelajaran Kampus 
Mahasiswa UIN Jakarta Soroti Efektivitas WFH dalam Pembelajaran Kampus 

Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online - Surat Edaran Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Nomor 10 Tahun 2026 menetapkan kebijakan Work From Home (WFH) dalam pembelajaran sebagai bagian dari penyesuaian sistem kerja kampus. Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 3 Tahun 2026. Peraturan tersebut salah satunya mengatur pelaksanaan  perkuliahan setiap Jumat dilaksanakan secara daring. 

Kebijakan WFH tersebut berdampak pada perubahan pola belajar mahasiswa. Perkuliahan yang semula berlangsung tatap muka kini sebagian dialihkan ke sistem daring. Mahasiswa pun memberikan beragam respons terhadap efektivitas kebijakan tersebut. 

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia dini (PIAUD), Nayla Azzaily, menilai pembelajaran WFH belum berjalan stabil. Nayla menilai efektivitas pembelajaran daring masih rendah karena perbedaan suasana belajar memengaruhi keaktifan mahasiswa.  

“Pembelajaran WFH itu tidak stabil, karena suasana belajar di rumah dan di kelas berbeda. Saat WFH mahasiswa cenderung kurang aktif, bahkan ada yang merasa tidak fokus atau kurang percaya diri saat mengikuti perkuliahan,” ungkap Nayla saat diwawancarai melalui WhatsApp pada Minggu (19/4/2026). 

Di sisi lain, mahasiswa prodi Jurnalistik, Rifqi Titah Gemilang, menilai WFH memberikan efisiensi waktu dan energi. Rifqi menyebut sistem tersebut mendorong mahasiswa untuk lebih mandiri dalam mengatur waktu. 

“Saya tidak perlu menghabiskan waktu dan energi di perjalanan. Waktu tersebut bisa saya gunakan untuk belajar atau mengerjakan tugas. Saya juga bisa mengulang materi yang belum dipahami dari rekaman atau catatan yang dibuat, hal tersebut membantu pemahaman materi secara berulang,” ujar Rifqi  saat diwawancarai melalui WhatsApp pada Senin (20/4/2026). 

Akan tetapi, Rifqi menyoroti kendala teknis selama pembelajaran daring. Ia menyebut koneksi internet yang tidak stabil menjadi hambatan utama dalam proses belajar.

“Masalah yang paling sering terjadi itu sinyal atau koneksi yang tidak stabil. Kalau jaringan bermasalah, saya harus menggunakan kuota sendiri dan itu cukup membebani,” tambahnya.

Selain kendala teknis, Rifqi menilai interaksi dalam pembelajaran daring belum berjalan optimal. Diskusi secara daring dinilai kurang interaktif dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka. 

Menanggapi pelaksanaan kebijakan tersebut, Nayla dan Rifqi menunjukkan adanya kekhawatiran terkait potensi penurunan kualitas pembelajaran jika pembelajaran daring tidak dimbangi strategi yag tepat. Meskipun efisiensi waktu menjadi keuntungan, aspek pemahaman materi dan interaksi dinilai tetap menjadi tantangan utama dalam penerapan WFH di lingkungan kampus. 

Reporter: Mustika Pertiwi |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby