Membangun Kebiasaan Finansial Sejak Masa Perkuliahan, Ini Pesan Coach Edy
Student Center, Berita Kemahasiswaan Online – Islamic Movement Festival (IMF) 2026 yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasisw+a (UKM) LDK Syahid UIN Jakarta, hadirkan sesi talkshow mengenai pengelolaan dan kemandirian finansial bagi mahasiswa. Sesi tersebut menghadirkan Coach Edy Fajar Prasetyo, S.P., M.M. sebagai narasumber. Kegiatan berlangsung di Lapangan Student Center UIN Jakarta, Senin (28/09/2026).
Coach Edy Fajar Prasetyo merupakan alumni Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Jakarta. Semasa menjadi mahasiswa, ia aktif di Biro Perkembangan Ekonomi LDK Syahid, dan mengembangkan pengelolaan limbah plastik menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi, bersama dengan eco bisnis Tangsel Creative Space.
Dengan materi bertajuk “Membangun Dana Abadi Sejak Kampus: Cetak Biru Kemandirian Finansial Berbasis Syariah untuk Gen Z.” Coach Edy mengajak mahasiswa untuk mulai membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak masa perkuliahan, agar mampu mencapai kemandirian finansial.
“Pengaturan keuangan itu perlu ada pembiasaan, agar kita bisa mengelola keuangan kita secara baik,” tuturnya.
Menurut Coach Edy, mahasiswa perlu mengelola kemampuan dan keterampilan yang dimiliki agar dapat memberikan manfaat sekaligus menjadi peluang untuk memperoleh penghasilan. Ia juga menekankan pentingnya memiliki prinsip dalam mengatur keuangan, termasuk membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menghindari gaya hidup yang berlebihan.
“Kalau Anda punya skill atau kemampuan, kemampuannya itu harus dikonversi atau diuangkan, jangan hanya dijadikan hobi. Selain itu, kita juga harus bisa mengatur ego dan memiliki prinsip. Fokus pada esensi bukan sensasi, cari fungsi bukan gengsi, hindari lifestyle yang berlebihan,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Coach Edy menyebutkan lima jebakan finansial yang perlu dihindari mahasiswa. Lima hal tersebut meliputi bocor gaya hidup (gaya hidup berlebihan), over kredit, cuek arus kas (sering hutang/kasbon), orientasi instan atau FOMO (Fear of Missing Out), serta tidak memiliki perencanaan keuangan.
Ia juga menjelaskan pentingnya memiliki target dalam perencanaan keuangan. Menurutnya, target dapat menjadi dorongan untuk seseorang dalam mengelola dan menggunakan uang.
“Yang bikin kita susah untuk mendapatkan apa yang kita impikan adalah karena kita tidak punya target, kita tidak punya tujuan. Karena jika kita punya target, kita akan punya tekad untuk mendapatkannya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Coach Edy memperkenalkan formula distribusi keuangan 1–2–3–4. Pembagian tersebut terdiri atas:
- Aspek sosial, berupa zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebesar 10%.
- Investasi, berupa tabungan, dana darurat, dan saham syariah sebesar 20%.
- Kebutuhan pokok, berupa makan, tempat tinggal, pakaian, dan lain-lain sebesar 40%.
- Aktivitas produktif, seperti modal usaha, buku, sertifikasi, dan kuota belajar sebesar 30%.
Selain mengatur keuangan, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif bergerak dalam mencari dan menciptakan peluang. Menurutnya, peluang dapat muncul ketika seseorang memiliki kemauan untuk berusaha dan memanfaatkan kesempatan yang dimiliki secara tepat.
Melalui sesi talkshow ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami pentingnya membangun kebiasaan finansial sejak masa perkuliahan.
Reporter: Hilya Hafiza Sadi | Editor: Arini Aisyah Putri Bambang | Fotografer: Andi Adrian | Publisher: Nindya Nova Macelia & Zachra Fitri Fauziah
Dokumentasi:






