Mendobrak Stigma, Kisah Indah dan Ilham menjadi Entrepreneurship Tanpa Mengorbankan Akademik
Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online – Stigma bahwa mahasiswa yang terjun ke dunia entrepreneurship pasti menelantarkan kuliah dibuktikan sebaliknya oleh dua mahasiswa UIN Jakarta, yaitu Indah Listiana dengan bisnis fesyen dan kulinernya, serta Muhammad Ilham Setiawan yang merintis karier sebagai wedding content creator. Berbekal manajemen waktu dan penentuan skala prioritas yang tersistem, kedua mahasiswa ini mendobrak batas, menunjukkan bahwa prestasi akademik dan kemandirian finansial dapat diraih secara beriringan.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Indah Listiana merupakan mahasiswa yang aktif di bidang akademik dan organisasi. Ia saat ini terlibat dalam beberapa organisasi, seperti Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FITK dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid UIN Jakarta, khususnya pada bidang administrasi dan pengembangan ekonomi.
Indah mengungkapkan, di sela kesibukan kuliah dan organisasi, ia menjalankan bisnis kecil berupa salad buah dan hijab yang sudah dirintis sejak Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga kini. Latar belakang pendidikannya di Prodi PIPS dengan Konsentrasi Ekonomi membuatnya jadi lebih paham mengenai pengelolaan usaha dan keuangan karena terdapat beberapa mata kuliah yang mendukung hal tersebut.
“Dari perkuliahan, saya belajar bahwa entrepreneurship bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga bagaimana kita mampu menciptakan peluang dan bertanggung jawab terhadap apa yg kita jalankan,” katanya saat diwawancarai pada Rabu, (13/5).
Indah menyampaikan, lingkungan cukup mempengaruhi keputusan dirinya untuk memulai bisnis sejak SMA. Awalnya sederhana, hanya ingin belajar mandiri dan memenuhi kebutuhan pribadi tanpa bergantung ke orang tua secara terus-menerus. Saat ini ia menjalankan bisnis skala kecil berupa hijab bergaya ramah mahasiswa dan salad buah bersistem pre-order demi menjaga kualitas produk.
Indah mengungkapkan, akibat padatnya jadwal akademik dan organisasi, penjualan hijabnya masih belum konsisten dan lebih dimaksimalkan pada momen besar seperti bulan Ramadan. Meskipun pemasarannya masih sebatas mengandalkan media sosial (WhatsApp dan Instagram) serta jaringan relasi di lingkungan kampus, ia bersyukur kedua usaha ini dapat terus bertahan hingga sekarang.
Lebih lanjut, ia merasa sukses menyeimbangkan pencapaian akademiknya dengan berbagai aktivitas keorganisasian serta magang. Bukti komitmen tersebut terlihat dari kepercayaan dosen yang kerap menunjuknya sebagai bendahara maupun sekretaris dalam berbagai kegiatan Prodi. Terkait laju perkembangannya di bidang entrepreneurship yang masih tergolong kecil, Indah tidak mempermasalahkannya dan justru menilai keberhasilannya mempertahankan usaha sejak SMA hingga semester enam sebagai proses belajar yang sangat berharga tentang makna sebuah konsistensi.
Indah menambahkan, kampus merupakan tempat di mana dirinya bertemu banyak orang, yang memungkinkan bisa mendapatkan pelanggan dari teman-teman organisasi serta relasi di kampus. Menjadi entrepreneur membuat ia dapat mengatur waktu, berkomunikasi dengan pelanggan, hingga mengelola keuangan.
“Saya merasa masa kuliah adalah waktu yang tepat untuk eksplor dan belajar banyak hal, termasuk belajar mandiri secara finansial dan tanggung jawab,” ujarnya.
Kisah dengan latar belakang berbeda datang dari Mahasiswa Prodi Dirasat Islamiyah Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), Muhammad Ilham Setiawan. Ilham mengungkapkan, ia justru mengambil langkah berani dengan terjun ke industri kreatif digital sebagai seorang wedding content creator profesional, sebuah bidang yang diakuinya sama sekali tidak memiliki relevansi dengan pendidikan agama yang ia tekuni di kampus.
Jika Indah aktif di organisasi, Ilham aktif menjadi mahasantri di Pesantren Darus-Sunnah. Menurutnya, ketertarikan awal menjadi content creator tidak didorong oleh lingkungan pendidikan tersebut, melainkan termotivasi oleh teman satu kos yang hobi membuat video. Hobi tersebut menular kepadanya, lalu membuatnya mulai mengikuti berbagai lomba untuk mengumpulkan uang demi mengejar target pribadi yang dapat menunjang kebutuhannya di industri tersebut.
“Mengelola jadwal yang padat, seperti presentasi kampus, tugas asrama, mengaji, dan lain-lain murni bergantung pada manajemen waktu. Saya merasa bahwa semakin saya sibuk, saya justru semakin disiplin. Sebaliknya, saat tidak ada kegiatan, saya cenderung malas. Dunia kreator profesional pun memang sangat menuntut tingkat kedisiplinan yang tinggi,” tuturnya saat diwawancarai pada Jumat, (8/5).
Lebih lanjut, Ilham menerangkan bahwa menang berbagai lomba di masa lalu menunjang karier profesionalnya saat ini. Di berbagai lomba tersebut, ia mengasah dan melatih skill. Setelah itu, ia merasa memiliki rasa percaya diri dengan portofolio dari lomba-lomba itu. Barulah selanjutnya ia berani terjun dan membuka jasa secara profesional sebagai wedding content creator.
Tak hanya itu, Ilham juga menyatakan, saat pertama kali merintis dan ikut lomba, perangkat yang ia miliki masih sangat seadanya. Namun, setelah menabung dari penghasilan lomba dan bisnis, perangkat yang ia gunakan sekarang sudah memadai dengan spesifikasi yang mumpuni untuk konten berkualitas tinggi.
Terkait stigma, bekerja atau berbisnis dapat membuat kuliah terbengkalai, Indah dan Ilham sepakat bahwa anggapan tersebut keliru, karena pada akhirnya semua kembali kepada bagaimana masing-masing individu mengatur prioritas dan tanggung jawabnya. Kegagalan akademik umumnya terjadi karena mahasiswa terlalu terlena mencari uang sehingga melupakan tujuan awalnya berkuliah. Sebaliknya, jika pendidikan tetap diutamakan, kesibukan berbisnis justru akan melatih kedisiplinan dan tanggung jawab mereka.
Sebagai saran bagi mahasiswa yang ingin berbisnis, Indah dan Ilham membagikan prinsip yang saling melengkapi.
“Saya mendorong mahasiswa untuk berani memulai dari hal kecil tanpa harus menunggu semuanya sempurna, karena proses yang konsisten justru akan melatih kedisiplinan dan tanggung jawab,” kata Indah.
Melengkapi hal tersebut, Ilham menegaskan pentingnya penerapan skala prioritas agar mahasiswa tidak melupakan tujuan utamanya untuk berkuliah.
“Saya sangat menyarankan agar mahasiswa tidak memaksakan diri melakukan multitasking, serta harus berani mengambil jeda sementara dari pekerjaan saat beban akademik seperti ujian atau skripsi sedang padat,” tutup Ilham.
Reporter: Laila Nurrahma |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |pu
