Organisasi Sebagai Fondasi, Duta Sebagai Jembatan, Perjalanan Dzikry Ardhan Perluas Kebermanfaatan
Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online – Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, Dzikry Ardhan Afdhaluddin yang akrab disapa Dzikry, mengemban amanah sebagai duta di berbagai instansi. Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Jakarta itu selain menjabat sebagai Koordinator Sub Kelas Minat Bakat (KMB) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid. Ia juga lekat dengan titel Duta Bahasa DKI Jakarta 2024, Duta UIN Jakarta 2024, dan Duta Baca Kota Tangerang Selatan (Tangsel) 2024.
Dzikry mengungkapkan, motivasi utamanya mendaftar duta adalah untuk belajar banyak hal dan mendapatkan kesempatan serta peluang baru yang sebelumnya ia lihat pada para senior atau kakak tingkat (kating) yang berprestasi. Ia ingin mendapatkan privilese, diundang menjadi narasumber ke berbagai tempat, dan memiliki impian spesifik menjadi pewara di acara wisuda.
Menurutnya, ketertarikan itu, bermula pada awal 2024 dengan mendaftar seleksi Duta Bahasa. Selain itu, untuk bidang literasi seperti Duta Baca, ketertarikannya sangat erat kaitannya dengan posisinya saat ia masih menjadi Koordinator Divisi Keilmuan LDK Syahid FDI. Di sana, ia pernah menginisiasi acara "UIN Jakarta Book Party" di bawah naungan komunitas literasi Taslima.
“Saya tidak melihat peran sebagai aktivis LDK dan Duta sebagai dua dunia yang bertentangan, melainkan sebuah jalan yang beriringan,” tanggapannya saat diwawancarai pada Jumat, (8/5/2026).
Dzikry melanjutkan, LDK Syahid membentuk karakter, nilai-nilai, dan keberanian untuk tampil, sedangkan duta sebagai wadah aksi dan representasi. Berkembang di keduanya menjadikan ia bisa memperluas dampak kebermanfaatannya sekaligus bentuk pengabdian kepada kampus yang memberi saya ilmu.
Dzikry memaparkan, perjalanan terpanjang yang ia rasakan adalah saat seleksi Duta Bahasa, yang meliputi seleksi berkas, tes bahasa Inggris dan Indonesia, esai, wawancara, semifinal, hingga karantina. Meski akhirnya ia hanya sampai pada posisi finalis di Duta Bahasa DKI Jakarta, kegagalan tersebut memberinya pelajaran berharga terkait kepemimpinan, penyelesaian masalah, perbaikan esai, hingga personal branding di media sosial.
“Pengalaman itulah yang mengantarkan saya menjadi Juara 1 di Duta UIN Jakarta dan Duta Baca Tangsel,” ujarnya.
Tentu terkait tantangan, Dzikry mengutarakan, tantangannya adalah memanajemen waktu, terutama saat persiapan Duta Bahasa, mengharuskannya latihan berulang kali di Gelora Bung Karno (GBK) dan menyiapkan berbagai materi maupun penampilan.
“Tak hanya itu, lingkungan baru yang kompetitif juga menjadi suatu tantangan bagi saya. Namun, latar belakang LDK Syahid sangat membantu karena saya merasa harus teguh mempertahankan identitas utama saya sebagai aktivis dakwah di tengah lingkungan tersebut,” ucapnya.
Lebih lanjut, Dzikry menyebut, kontribusi nyata sebagai Duta Bahasa yaitu ia membuat permainan bernama "Si Cerdik" sebagai solusi menanggulangi isu bullying di kalangan remaja. Ia berpartisipasi dalam program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) seperti festival sastra dan "Mudik Asyik Baca Buku".
Lain halnya sebagai Duta UIN, Dzikry bertugas menjadi protokoler kampus dan melakukan presentasi atau sosialisasi di puluhan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sementara itu, sebagai Duta Baca, ia menjadi pelopor yang menginisiasi pembuatan Paguyuban Duta Baca Tangsel agar program menjadi lebih berkelanjutan.
“Perjalanan menjadi duta mengubah saya menjadi pribadi yang lebih strategis, berani, percaya diri, profesional, dan jago dalam memecahkan masalah khususnya terkait gerakan sosial masyarakat. Gelar duta seumur hidup yang saya emban tidak saya rasakan sebagai beban stres, melainkan sebagai dorongan terus-menerus untuk selalu mengevaluasi dan memperbaiki diri,” ujar Dzikry.
Dengan membawa prinsip Khoirunnas anfa’uhum linnas, ia ingin membuktikan bahwa aktivis dakwah tidak seharusnya membatasi diri berdakwah di masjid saja, tetapi harus berada di garis depan pada dunia literasi dan pendidikan publik agar menjadi teladan intelektual yang komunikatif. Tak hanya itu, Dzikry juga bermimpi membuat platform edukasi yang jauh lebih sistematis dan terukur untuk individu maupun komunitas ke depannya.
“Jangan pernah takut keluar dari zona nyaman dan mulailah prosesnya sejak sekarang. Prestasi bukanlah ajang pamer, melainkan alat untuk meningkatkan kebermanfaatan yang lebih luas. Jadikanlah nilai dari organisasi sebagai pondasi, dan peran prestisius sebagai jembatannya,” pesannya saat menutup wawancara.
Reporter: Laila Nurrahma |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
