Poros Dakwah UIN Jakarta: Upaya LDK Syahid Cetak Insan Berkarakter Madani
Gedung Kemahasiswaan, Arah Ormawa – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid UIN Jakarta menjadi poros utama penggerak dakwah di lingkungan kampus. Peran tersebut secara nyata diwujudkan melalui integrasi keilmuan, teknologi, dan nilai-nilai Islam dalam keseharian mahasiswa.
LDK Syahid merupakan UKM yang berfokus pada kegiatan keislaman, pengembangan karakter, hingga aksi sosial di masyarakat. LDK Syahid berdiri pada 28 Mei 1996 melalui forum Majelis Perwakilan Mahasiswa Institut (MPMI). Masa itu, dua puluh mahasiswa UIN Jakarta (IAIN) dari lima fakultas dilantik sebagai pengurus LDK Syahid periode pertama 1996–1997. Visi LDK Syahid adalah menciptakan insan dakwah yang kokoh secara spiritual, intelektual, dan solidaritas dengan etos profesional menuju kampus islami (khairu ummah).
Ketua Umum LDK Syahid 2026, Muhammad Syauqi Mubarak, menyampaikan pandangannya soal urgensi madani. Menurutnya, konsep madani masih sangat penting dan relevan untuk diterapkan hingga hari ini. Kehadiran ajaran Islam tidak seharusnya hanya dipelajari di ruang kelas atau didengarkan di masjid, tetapi harus diimplementasikan secara nyata.
Peran tersebut diwujudkan melalui empat langkah utama, yaitu pembentukan karakter (kaderisasi), menjadi role model (agen perubahan), dakwah yang inklusif dan digital, dan dampak sosial konkret.
“Konsep madani ini krusial untuk menjadikan lingkungan kampus sebagai tempat yang dipenuhi oleh adab dan akhlak yang sesuai dengan syariat, yaitu Al-Qur'an dan sunah,” ujar Syauqi, pada Senin (20/4/2026).
Syauqi menjelaskan dengan gamblang, konsep kampus madani terwujud melalui beberapa pilar program utama yang terstruktur, komprehensif dan menyentuh berbagai aspek kehidupan mahasiswa. Pembinaan karakter dan adab menjadi fondasi utama yang dilakukan oleh Bidang Kaderisasi seperti mentoring, kajian rutin bulanan, mabit. Nilai-nilai syariat juga diintegrasikan dalam aktivitas keseharian, termasuk penyaluran minat dan hobi, seperti futsal bersama.
Selain itu, LDK Syahid turut memberdayakan ruang publik kampus sebagai pusat pembinaan spiritual. Salah satunya menghidupkan Masjid Student Center melalui agenda siraman rohani bakda Asar dan program kebersihan rutin “Glow Up in Masjid”. Di sisi lain, aksi sosial dan kemanusiaan direalisasikan oleh Bidang Pos Solidaritas Umat (PSU) melalui pembinaan dan pemberian beasiswa di dua desa sahabat pemulung, serta terlibat aktif dalam mengawal isu kemanusiaan dan penggalangan donasi untuk Palestina.
Syauqi menambahkan, pemberdayaan mahasiswa juga menjadi perhatian LDK Syahid melalui Biro Keputrian, dengan menghadirkan kajian fikih wanita, kampanye tren positif di media sosial, serta acara edukatif dakwah berskala besar. melalui penyebaran konten inklusif di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, hingga terobosan kajian interaktif melalui live streaming di dalam platform gim.
Menurutnya, tanggung jawab mewujudkan kampus madani, tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja, melainkan menjadi tugas seluruh elemen civitas academica. Selain itu, visi LDK Syahid dinilai sangat selaras dengan visi UIN Jakarta. LDK Syahid secara langsung merealisasikan hal tersebut melalui program kerja serta mendorong mahasiswa untuk tidak hanya melihat Islam sebatas ibadah, melainkan menerapkannya secara menyeluruh (syumuliyatul Islam) dalam ilmu dan keseharian, termasuk menggunakan platform digital modern untuk dakwah.
Dalam perkataan yang senada, Ketua Keputrian LDK Syahid 2026, Nesya Ayu Syifa Yanti juga mengungkapkannya dalam kacamata keputrian. Konsep madani memastikan bahwa perempuan tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga religius. Konsep ini juga menekankan kesetaraan potensi antara perempuan dan laki-laki.
“Hal ini menjadikan keputrian sebagai wadah pelatihan kepemimpinan agar perempuan nantinya siap mengisi posisi-posisi strategis di masyarakat,” ungkapnya, pada Senin, (20/4/2026).
Lebih lanjut, Nesya memaparkan bahwa pembinaan menjadi kunci utama dalam menjaga nilai keislaman. Biro Keputrian menyelenggarakan acara, seperti International Hijab Solidarity Day (IHSD) yang tidak hanya diperuntukkan bagi anggota LDK, melainkan menyasar seluruh mahasiswi UIN Jakarta hingga umum untuk menyebarkan pemahaman mendalam tentang urgensi dan relevansi hijab di zaman modern. Mahasiswi LDK Syahid diharapkan menjadi motor penggerak dan agent of change di kampus. Mereka harus menjadi contoh langsung (role model) yang mempraktikkan syariat Islam secara benar.
“Misalnya dengan memakai jilbab menutup dada, untuk membuktikan kepada mahasiswi lain bahwa seorang muslimah tetap bisa gaul tanpa harus melanggar ajaran Islam,” tutur Nesya, pada Senin (20/4/2026).
Soal tantangan, keduanya menyingkap bahwa tantangan terbesar di era digital saat ini adalah bertebarannya narasi-narasi sekuler di media sosial (medsos) yang secara halus mencoba memisahkan ajaran Islam dari kehidupan duniawi. Selain itu, juga menghadapi tren gaya hidup mahasiswi di medsos yang kerap bertolak belakang dengan syariat.
“Tantangan utamanya adalah menyadarkan mahasiswa muslim agar tetap memakai ‘kacamata Islam’ dalam kesehariannya dan mengintegrasikan antara mengejar urusan dunia dan akhirat,” tutup Syauqi.
Reporter: Laila Nurrahma |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
