Ranita Latih Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja Lewat Program Lingkungan dan Kemanusiaan
Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Battuttah (KMPLHK RANITA) UIN Jakarta berdiri pada 21 Maret 1987. Organisasi yang awalnya berangkat dari Lembaga Otonom (LO) Fakultas Adab dan Humaniora ini bergerak di bidang lingkungan hidup dan kemanusiaan.
Ketua Umum Ranita periode 2026, Farhan Maulana Achyar, menjelaskan UKM Ranita dibentuk atas keresahan mahasiswa terhadap isu lingkungan dan kemanusiaan yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, arah gerak Ranita sejak awal berfokus pada pengembangan kepedulian lingkungan sekaligus pembentukan keterampilan lapangan bagi mahasiswa.
“Organisasi ini lahir dari keresahan terhadap isu-isu lingkungan dan kemanusiaan sehingga bidang lingkungan hidup menjadi arah gerak utama Ranita sampai sekarang,” ujar Farhan saat diwawancarai melalui WhatsApp pada Kamis (14/5).
Farhan menjelaskan Ranita memiliki sistem pendidikan berjenjang yang diarahkan untuk membentuk kemampuan teknis dan kemampuan organisasi anggota. Tahapan ini dimulai dari Calon Anggota Ranita (Carita), Anggota Muda Ranita (Amura), hingga anggota penuh. Dalam proses pendidikan ini, anggota dibekali berbagai keterampilan lapangan serta pengembangan soft skill seperti leadership, responsibility, problem solving, khususnya pada bidang lingkungan hidup, kemanusiaan, dan kebencanaan.
Dalam pelaksanaannya, Ranita memiliki tiga divisi utama, yaitu search and rescue (gunung, hutan, vertical rescue, dan water rescue), advokasi lingkungan dan disaster management (manajemen kebencanaan). Ketiga divisi ini menjadi ruang pengembangan keterampilan anggota melalui pendidikan dan praktik lapangan.
Menurut Farhan, keterampilan khusus yang dimiliki anggota dapat menjadi nilai tambah ketika memasuki dunia profesional. Program kerja tiap divisi diarahkan untuk mendukung kesiapan anggota menghadapi dunia kerja.
“Program-program yang kami usung membantu mahasiswa memiliki kemampuan spesifik karena seseorang yang memiliki keterampilan khusus biasanya memiliki nilai lebih dibandingkan yang tidak,” jelasnya.
Salah satu alumni Ranita, Agus Syabarrudin atau Goesbar menyebut pengalaman organisasi di Ranita memiliki pengaruh terhadap perjalanan kariernya. Alumni Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora yang lulus pada 1990 itu kini bekerja sebagai executive banker dan senior executive advisor di perusahaan private equity (fundbridge globalink investa). Ia juga aktif sebagai Ketua Umum Asosiasi Peduli Zero Emisi Karbon Indonesia (APZEKI).
Goesbar menjelaskan pengalaman di Ranita membantunya memahami manajemen krisis, tata kelola organisasi, dan pengambilan keputusan. Menurutnya, keterampilan tersebut relevan dengan kebutuhan dunia profesional.
“Di Ranita kami belajar menghadapi situasi tidak terduga melalui manajemen bencana dan kegiatan lapangan. Kemampuan tetap tenang di bawah tekanan, memetakan risiko, dan mengambil keputusan cepat menjadi modal penting ketika saya bekerja di dunia perbankan dan investasi,” ungkapnya saat diwawancarai melalui WhatsApp pada Jumat (15/5).
Selain itu, Goesbar juga menilai Ranita memiliki relevansi dengan kebutuhan industri saat ini, terutama di tengah berkembangnya isu keberlanjutan dan ekonomi hijau (green economy). Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja yang memahami isu lingkungan dan keberlanjutan terus meningkat.
“Sekarang industri tidak hanya berbicara soal profit, tetapi juga people dan planet. Kebutuhan terhadap talenta yang memahami perubahan iklim, ESG, dan manajemen karbon semakin tinggi. Ranita memiliki potensi besar karena bergerak langsung di isu tersebut,” jelasnya.
Meski demikian, Farhan menilai dukungan kampus terhadap aktivitas Ranita masih belum optimal, terutama dalam kegiatan kemanusiaan di lapangan. Ia mencontohkan keterlibatan anggota Ranita dalam penanganan bencana di Sumatra yang sebagian besar dilakukan secara mandiri oleh organisasi.
“Ketika terjadi bencana di Sumatra, Ranita menurunkan sekitar 13 anggota di tiga titik secara mandiri. Dukungan kampus saat itu belum maksimal, padahal kegiatan kebencanaan memiliki risiko dan kebutuhan logistik yang besar,” tutupnya.
Reporter: Mustika Pertiwi |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin | Publisher: Muhammad Haikal Aby
