Sinergi LDK Syahid Universitas dan Fakultas Bangun Ekosistem Dakwah UIN Jakarta
Sinergi LDK Syahid Universitas dan Fakultas Bangun Ekosistem Dakwah UIN Jakarta

Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UIN Jakarta yang berfokus pada pembinaan karakter mahasiswa dengan berlandaskan nilai-nilai syariat Islam. Dalam pergerakannya, struktur organisasi LDK Syahid ini terintegrasi secara langsung dari tingkat universitas hingga ke tingkat fakultas (LDK Syahid Fakultas). Sinergi tersebut diwujudkan melalui program kolaboratif satu pintu seperti rekrutmen Ekspresi dan Syahid Fair, serta ekspansi dakwah ke ruang digital melalui media sosial.

LDK Syahid tersebar di seluruh fakultas berjumlah 11 dengan Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kesehatan (Fikes) bergabung menjadi satu, sedangkan yang lainnya berdiri masing-masing di tiap fakultas. LDK Syahid menaungi beberapa bidang kerja, yaitu Biro Keputrian, Biro Keuangan, Biro Kestari (Kesekretariatan), Bidang Media, Bidang Kaderisasi, Bidang Humas, Bidang Pengembangan Ekonomi, Bidang Syiar, Bidang Pos Solidaritas Umat (PSU), Bidang Syahid Quran Center (SQC), Bidang Pengembangan Akademik Bakat dan Keilmuan (PABK), dan Bidang Remaja Masjid Student Center (RMSC).

Ketua Umum LDK Syahid 2026, Muhammad Syauqi Mubarak menjelaskan bahwa kehadiran LDK  Syahid Fakultas (LDKSF) sangat urgen sebagai perpanjangan tangan karena masifnya jumlah kader yang ada. Menurutnya, pembinaan harus terus diintegrasikan agar kegiatan di fakultas sejalan dengan arah LDK universitas atau pusat. Ia sangat mewanti-wanti bahayanya jika fakultas tidak berkoordinasi dengan pusat. LDKSF hadir memainkan peran krusial sebagai ujung tombak sekaligus jembatan untuk membumikan arah gerak dari pusat agar relevan dengan realitas di akar rumput.

“Ketika fakultas itu berjalan sendiri-sendiri, maka semua laporan yang ada, akan tidak terjaga dan justru malah menjadi keretakan yang kemudian harus segera dibenahi,” tegas Syauqi pada wawancara, Kamis (21/5).

Untuk merekatkan hal tersebut, Syauqi menyebutkan, LDK Syahid menghadirkan program terintegrasi satu pintu, seperti sistem rekrutmen Ekspresi, Islamic Movement Festival, Syahid Literation Community, hingga International Hijab Solidarity Day (IHSD). Langkah strategis ini diambil untuk menyelaraskan gerak dakwah demi menjembatani perbedaan kultur dan karakteristik mahasiswa di setiap fakultas yang ada di UIN Jakarta.

Dari sudut pandang fakultas, Ketua LDK Syahid Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) 2026, Ahmad Yassin menyampaikan, pendekatan dakwah tidak bisa diseragamkan ke semua mahasiswa. Ia mencontohkan bahwa mahasiswa FISIP memiliki budaya yang lebih kritis, dialogis, dan peka terhadap isu sosial-politik, sehingga dakwah harus dikemas dengan pendekatan yang kontekstual dan intelektual. Ia juga meyakini bahwa tanpa adanya integrasi dari pusat, dakwah kampus bisa kehilangan kesinambungan visi dan berjalan sendiri-sendiri.

“Peran kami di tingkat fakultas adalah menerjemahkan nilai dan arah gerak dakwah universitas agar bisa relevan dengan karakter mahasiswa FISIP serta fakultas lainnya,” ungkap Yassin saat diwawancarai terpisah, Rabu (20/5).

Sementara itu, pandangan senada juga disampaikan oleh Ketua Keputrian LDK Syahid Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) 2026, Adillah Syarfina, yang mewakili kultur mahasiswa Tarbiyah. Adillah mengibaratkan LDKSF sebagai ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan mahasiswa/i di akar rumput, karena agenda universitas tidak akan membumi jika tidak dikemas dengan “bahasa anak Tarbiyah”. Ia mengungkapkan, roda integrasi justru paling ampuh dijaga melalui komunikasi informal.

“Komunikasi informal antarketua lewat coffee break bareng atau sekadar diskusi santai di WhatsApp itu justru yang paling ampuh menjaga keharmonisan dibanding rapat-rapat formal,” tuturnya pada wawancara terpisah, Sabtu (23/5).

Lebih jauh, sinergi fakultas-fakultas bermuara pada satu tujuan utama, yakni mencetak kader berkualitas yang sejalan dengan visi UIN Jakarta. Untuk mencapainya, Syauqi menyebutkan perlunya pembinaan hingga ke ranah mikro, seperti rutinitas mentoring pekanan dan pembiasaan amalan harian agar spiritualitas kader menguat. Di sisi lain, Yassin berharap integrasi ini mampu melahirkan kader yang seimbang antara spiritualitas, intelektualitas, dan sensitivitas sosial sehingga mereka bijak merespons realitas. Sementara itu, Adillah memastikan kader FITK dipersiapkan untuk menjadi lulusan integratif yang tidak hanya paham agama secara tekstual, tetapi juga menguasai cara mengajarkannya lewat pendekatan pedagogis.

Integrasi lintas fakultas yang berbeda kultural pun bukan tanpa tantangan. Adillah mengakui bahwa tantangan terberatnya adalah menurunkan ego sektoral demi kepentingan dakwah yang lebih besar. Ia mencontohkan bagaimana karakter mahasiswi FITK yang religius dan manut sering kali berbeda tajam dengan anak fakultas lain yang kritis dan dinamis. Meski begitu, Adillah melihat perbedaan karakter ini sebagai keindahan yang saling melengkapi.

“Ketika ada isu perempuan mencuat, mereka maju dengan analisis kritisnya, dan kami dari FITK menyambutnya dengan solusi edukatif,” jelas Adillah.

Pada akhirnya, sebagaimana disimpulkan oleh Yassin, dampak nyata dari kelapangan dada dan sinergi lintas fakultas ini membuat suasana dakwah kampus menjadi lebih kolaboratif dan tidak terpisah-pisah, melainkan bersatu menjadi sebuah resonansi kebaikan bersama di lingkungan UIN Jakarta.

Reporter: Laila Nurrahma |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby