Tak Hanya Teori, Magang Jadi Bekal Mahasiswa UIN Jakarta Hadapi Dunia Kerja
Tak Hanya Teori, Magang Jadi Bekal Mahasiswa UIN Jakarta Hadapi Dunia Kerja

Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online – Program magang di Indonesia terus berkembang sebagai upaya mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja profesional. Mengutip dari website uinjkt.ac.id, PTKI khususnya UIN Jakarta berkolaborasi dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama Republik Indonesia bersama PRIMA (Professional Readiness Through Internship and Mentorship for Academics) dalam mewujudkan program magang Kemenag RI. 

Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Azka Khalid Hamdi menjelaskan, sebelum mengikuti magang, dirinya telah memiliki dasar keterampilan di bidang kepenulisan melalui Lembaga Semi Otonom (LSO) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) yakni Jurnalis TV. Selanjutnya, ia magang di internship unit kemahasiswaan UIN Jakarta, menurutnya pengalaman magang menambah sekaligus memperluas kemampuan ke ranah yang lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Sebelum magang saya menjadi reporter di Jurnalis TV. Setelah magang, saya mengembangkan keterampilan saya menjadi content creator untuk keperluan kemahasiswaan,” ujarnya, Senin (4/5).

Azka menilai, pengalaman dan keterampilan yang diperoleh selama magang menjadi faktor penting dalam proses rekrutmen kerja. Menurutnya, perusahaan cenderung menjadikan pengalaman sebagai indikator utama dalam menilai calon pegawai.

“Keterampilan dan pengalaman yang kita punya itu jadi barometer HRD dalam merekrut. Dengan pengalaman yang mumpuni, kita jadi lebih mudah beradaptasi dan memulai pekerjaan di dunia kerja,” jelasnya.

Azka menyatakan, pemahaman lebih mendalam mengenai industri kreatif, khususnya terkait produksi dan distribusi konten didapat saat magang. Pengalaman ini turut membentuk kepekaan terhadap tren pasar serta arah perkembangan profesi di bidang tersebut.

“Di divisi content creator saya jadi tahu dinamika pasar dalam pembuatan konten dan lebih peka terhadap kebutuhan industri,” jelas Azka.

Perbedaan dampak magang yang dirasakan setiap mahasiswa, menurut Azka, dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam memanfaatkan peluang serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar kerja yang beragam. Menurutnya, pengalaman magang juga memberikan dampak signifikan terhadap kepercayaan diri dan kemampuan bersaing di dunia kerja.

“Yang terpenting bagaimana kita memaksimalkan skill yang dimiliki. Dengan ilmu yang saya punya, saya lebih percaya diri untuk bersaing,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Ahmad Adib Awwaliy mengungkapkan, sebelum magang ia telah memiliki pengalaman di bidang administrasi melalui aktivitas pengabdian di lingkungan pondok pesantren. Menurutnya,  pengalaman magang di unit kemahasiswaan khususnya di bidang administrasi memberikan pemahaman yang lebih luas terkait birokrasi kampus dan dunia kerja.

“Sebelum magang saya sudah punya pengalaman di administrasi, tapi setelah intern di kemahasiswaan jadi lebih banyak tahu alur birokrasi kampus, komunikasi, dan penggunaan tools seperti excel atau word karena sering sharing dengan partner,” ungkapnya, Selasa (5/5).

Menurut Adib, manfaat magang sangat terasa terutama dalam aspek komunikasi dan pemahaman birokrasi yang menjadi kunci dalam dunia kerja.

“Pengalaman magang yaitu ilmu birokrasi dan komunikasi itu akan terpakai di dunia kerja. Dua hal itu yang paling terasa manfaatnya,” katanya.

Menurut Adib, divisi administrasi memiliki peran krusial dalam mendukung jalannya sistem kerja organisasi. Posisi tersebut memberikan pemahaman mendalam terkait pentingnya alur birokrasi dan komunikasi yang efektif dalam dunia profesional.

“Divisi ini penting banget karena berkaitan dengan birokrasi dan komunikasi, yang memang jadi kunci di dunia kerja,” kata Adib.

Selain itu, Adib mengatakan, magang juga berperan dalam membangun jaringan profesional yang berpotensi membuka peluang karir di masa depan.

“Saya jadi kenal banyak orang baru dan membangun relasi, itu penting untuk karir kedepan,” tambahnya.

Selain itu keduanya juga memiliki pandangan berbeda terkait pihak yang paling diuntungkan dari program magang. Azka menilai semua pihak memperoleh manfaat secara seimbang sesuai perannya. Sementara Adib melihat mahasiswa sebagai pihak yang paling diuntungkan karena kampus menyediakan wadah untuk dapat pengalaman sebelum masuk dunia kerja.

Tak hanya itu, pengalaman magang juga dinilai memberikan dampak nyata terhadap kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja. Azka mengaku mulai menyadari banyak hal baru yang ia pelajari sejak awal menjalani magang, sementara Adib merasakan dampak tersebut secara langsung selama proses berlangsung.

Keduanya juga menegaskan bahwa magang merupakan hal yang penting dalam membangun kesiapan kerja mahasiswa, terutama dalam aspek pengalaman dan keterampilan praktis tak hanya teoritis saja.

Di sisi lain, keduanya menilai kampus telah berperan dalam mendukung program magang, meskipun masih perlu penguatan agar lebih optimal.

“Menurut saya peran kampus sudah cukup baik, tinggal kembali lagi ke mahasiswanya untuk memanfaatkan peluang tersebut,” pungkas Adib.

Reporter: Syahru Alfin Arsyada |Editor : Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby