Tanggapan Mahasiswa UIN Jakarta terhadap Kebijakan Peningkatan Tugas Digital Menristekdikti
Tanggapan Mahasiswa UIN Jakarta terhadap Kebijakan Peningkatan Tugas Digital Menristekdikti

Gedung Kemahasiswaan, Berita Online Kemahasiswaan - Melansir pemberitaan dari Antaranews.com berjudul “Mendiktisaintek Minta Tugas Mahasiswa Lebih Banyak Versi Digital”, memicu reaksi beragam dari kalangan mahasiswa. Dua mahasiswa dari Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) ikut menanggapi efektivitas kebijakan ini.  ini Penelitian dari Dyah Tuhrotul Fuada pun pada jurnal Innovative menemukan bahwa literasi digital dan motivasi kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Dakwah semester enam yang saat ini aktif di organisasi Karya Salemba Empat (KSE) dan  Lembaga Dakwah Kampus (LDK) pusat, Etika Santri Julia berpendapat bahwa dibutuhkan perbaikan fasilitas dari hulu ke hilir sebelum kebijakan ini disahkan secara menyeluruh.

Menurut Etika, sebagai mahasiswa ini adalah sebuah langkah konkret untuk menyiapkan mahasiswa ke dunia kerja nyata. Tapi, kementerian dan pihak kampus juga harus tanggung jawab buat memperbaiki  infrastruktur digital agar mendukung kebijakan ini berjalan lancar. 

“Biar kebijakan ini sifatnya inklusif bisa dirasakan manfaatnya sama semua mahasiswa, bukan cuma yang di kota besar atau yang punya fasilitas lengkap saja,” ujar Etika pada Sabtu (23/5).

Lebih lanjut, Etika memaparkan adanya dampak jangka panjang yang kontradiktif. Di satu sisi, digitalisasi tugas dapat mempercepat lahirnya technopreneur muda dan mendukung pertumbuhan ekonomi hijau melalui sistem nirkertas. Namun di sisi lain, jika infrastruktur belum siap, kebijakan ini justru berpotensi memperlebar jurang pemisah antar-mahasiswa dan menurunkan daya kritis akibat formalitas visual yang instan.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah semester enam, Clarissa, menyampaikan pandangan serupa bahwa format digital bukan jaminan otomatis mahasiswa menjadi lebih paham. Ia menekankan pentingnya keseimbangan dan fleksibilitas format tugas agar mahasiswa tidak mengalami disorientasi dalam proses belajar.

Menurut Clarissa, tugas digital belum tentu bikin mahasiswa otomatis lebih paham mata kuliah. Itu tergantung cara penyampaian dosen dan jenis tugasnya juga. Kalau tugasnya interaktif dan jelas, memang bisa membantu mahasiswa lebih ngerti karena akses informasinya lebih luas. 

Keduanya menyoroti kekhawatiran mengenai kesenjangan fasilitas dan pergeseran esensi tugas. Keduanya menilai bahwa tanpa adanya pemerataan jaringan internet dan subsidi perangkat digital, standarisasi tugas berbasis digital hanya akan membebani mahasiswa di daerah atau mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi.

“Tapi kalau tugas digitalnya cuma sekadar banyak tanpa penjelasan yang cukup, malah kadang bikin mahasiswa merasa kewalahan. Akhirnya cuma fokus nyelesain tugas, bukan memahami materinya,” pungkasnya, Jumat (22/5).

Reporter: Nikita Earlene Salsabila |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby