Toxic Productivity Ancam Kesehatan Mental Mahasiswa di Tengah Tuntutan Akademik
Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online – Produktivitas sering dipandang sebagai hal positif dalam dunia akademik. Namun, jika berlebihan, hal ini justru dapat mendorong seseorang melampaui batas wajar atau dikenal sebagai toxic productivity, yang pada akhirnya dapat mengganggu kesehatan mental.
Melansir dari laman Universitas Bandar Lampung (UBL) berjudul ‘Toxic Productivity dalam Perkuliahan: Fenomena, Dampak, dan Cara Mengatasinya’, toxic productivity merupakan kondisi ketika seseorang merasa harus terus bekerja atau belajar tanpa henti, bahkan saat sudah melewati batas kemampuannya.
Akibatnya, mahasiswa kerap merasa tidak pernah cukup produktif, cenderung menumpuk tugas, dan merasa bersalah jika beristirahat hingga akhirnya kelelahan. Dalam dunia perkuliahan biasanya hal ini terjadi lantaran dipicu oleh tuntutan meraih hasil sempurna agar terlihat lebih unggul.
Mengutip laman Universitas Gadjah Mada (UGM) Kantor Alumni bertajuk ‘Productivity vs Toxic Productivity: Understand Your Limits’, produktivitas dikatakan toxic ketika seseorang mulai terobsesi untuk terus melakukan sesuatu dan sulit beristirahat. Kondisi ini juga ditandai dengan hilangnya minat pada hal lain serta rasa takut tertinggal, sehingga tidak pernah merasa puas dengan hasil yang dicapai.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), individu dengan usia produktif 18–40 tahun memerlukan waktu tidur sekitar 7–8 jam per hari. Oleh karena itu, produktivitas yang ideal tetap harus diimbangi dengan pola tidur yang cukup, karena kurangnya waktu tidur dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.
Toxic productivity umumnya muncul akibat adanya tekanan internal seperti perfeksionisme maupun workaholism maupun faktor lingkungan seperti ekspektasi yang berlebih. Tekanan ini mendorong seseorang harus menyelesaikan semua tanggung jawab tanpa memperhatikan kesehatan fisik dan mental hingga akhirnya stres.
Selain itu, toxic productivity juga dapat dipicu oleh faktor Fear of Missing Out (FOMO) karena seseorang mau ‘terlihat aktif dan produktif’ meski berujung kelelahan. Penyebab utamanya adalah kemampuan manajemen waktu yang buruk.
Dampak yang ditimbulkan dari toxic productivity ini beragam, mulai dari gangguan tidur, penurunan kepuasan hidup, kelelahan emosional, burnout, hingga stres kronis. Apabila dibiarkan berlarut, kondisi ini akan memicu gangguan psikologis lainnya.
Agar terhindar dari toxic productivity, perlu ditanamkan dalam benak mahasiswa bahwa istirahat merupakan bagian dari proses belajar, bukan menjadi penghalang meraih kesuksesan. Mahasiswa harus mampu mengatur manajemen waktu dengan baik serta menyusun jadwal perkuliahan secara realistis, dengan tetap memberi jeda di sela aktivitas akademik.
Melakukan kegiatan yang disukai juga bisa membantu menjaga kestabilan fisik dan mental mahasiswa agar tetap fokus dalam perkuliahan. Selain itu, dukungan lingkungan kampus dan keluarga juga turut berpengaruh.
Mulai coba bangun komunikasi baik dengan keluarga, teman, maupun dosen, serta berani membicarakan beban tugas yang dirasakan. Dengan adanya lingkungan akademik yang suportif, mahasiswa dapat lebih seimbang dalam menjalani tuntutan kuliah tanpa terjebak pada tekanan produktivitas berlebih.
Reporter : Alfiah Ziha Rahmatul Laili Editor : Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
Sumber:
https://prosidingsinopsi.unmer.ac.id/index.php/sinopsi/article/view/133
https://ubl.ac.id/oxic-productivity-dalam-perkuliahan-fenomena-dampak-dan-cara-mengatasinya/
https://alumni.ugm.ac.id/2024/11/28/productivity-vs-toxic-productivity-understand-your-limits/
