UIN Jakarta Dorong Integrasi STEM di Pesantren melalui Sarasehan dan Penandatanganan Nota Kesepahaman
Jakarta, Selasa 21 April 2026 – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar kegiatan Sarasehan dan Penandatanganan Nota Kesepahaman di Ruang Diorama, Auditorium Harun Nasution. Kegiatan ini mengangkat tema “Strategi dan Tantangan Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Insani di Pesantren.”
Acara dibuka dengan rangkaian seremoni, mulai dari registrasi peserta, pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Dalam sambutannya, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., menegaskan pentingnya transformasi pendidikan pesantren melalui pendekatan multidisipliner.
Rektor menekankan perlunya integrasi pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dalam sistem pendidikan pesantren. Menurutnya, langkah ini strategis untuk melahirkan generasi ulama yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga menguasai sains, teknologi, teknik, dan matematika.
“Pesantren perlu menjadi pusat lahirnya ulama yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuan Islam. Pendekatan STEM dapat menjadi jembatan untuk memperkuat daya saing lulusan pesantren di tingkat global,” ujarnya.
Sarasehan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Din Wahid, M.A., Ph.D., Dr. KH. M. Tata Taufik, M.Ag. presiden Pengasuh Pesantren Indonesia (P2i), Dr. KH. L. Zulkifli Muhadi, S.H., M.M. ketua Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG), KH. Lukman Haris Dimyati, dan Dr. H. Maskuri, M.Ed., dengan moderator KH. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D. Diskusi berlangsung dinamis dengan membahas berbagai tantangan aktual pendidikan pesantren di era modern.
Dalam forum tersebut, perwakilan pesantren berbasis modern dan organisasi seperti pesantren Ashriyah dan Muhammadiyah menyampaikan dukungan kuat terhadap gagasan integrasi STEM. Mereka menilai pendekatan ini relevan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas peluang lulusan pesantren di berbagai sektor strategis.
Namun demikian, perwakilan pesantren salafiyah menegaskan pentingnya menjaga tradisi keilmuan klasik yang telah menjadi ciri khas pesantren selama ini. Mereka berpandangan bahwa inovasi perlu dilakukan secara selektif agar tidak menghilangkan identitas dan kekhasan pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis turats (khazanah keilmuan Islam klasik).
Sebagai tindak lanjut konkret, kegiatan ini juga diisi dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Pengasuh Pesantren Indonesia (P2i) serta Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG). Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. (raza2026)
