UIN Jakarta Gelar FGD G30S/PKI, Perkuat Literasi Sejarah dan Ketahanan Ideologi
Diorama Harnas, Berita Kemahasiswaan Online – UIN Jakarta menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Refleksi Sejarah G30S/PKI: Meneguhkan Kesadaran Kebangsaan dan Ketahanan Ideologi Nasional" di Aula Diorama Kampus UIN Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Forum tersebut menghadirkan kesaksian sejarah dari Amelia Ahmad Yani, putri Pahlawan Revolusi Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, serta pemikiran sosiologis-politik dari pendiri Panata Dipantara, K.H. Abdul Mun'im DZ.
Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., menegaskan pentingnya kecerdasan literasi sejarah bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk membentengi masa depan bangsa.
"Kekokohan suatu bangsa berawal dari sejauh mana warganya mengenal, belajar, dan cerdas memahami sejarahnya. Semoga mahasiswa dapat menangkap pelajaran berharga dari perjalanan panjang bangsa Indonesia," ujar Prof. Asep saat membuka acara.
Dalam sesi diskusi yang dipandu moderator Gus Irfan Awaluddin, Amelia Ahmad Yani membagikan kesaksiannya mengenai situasi politik dan ekonomi menjelang peristiwa September 1965, hingga detik-detik mencekam saat penembakan ayahnya oleh pasukan Cakrabirawa. Ia menyebut gerakan tersebut digerakkan oleh Biro Khusus di bawah pimpinan D.N. Aidit.
Amelia menceritakan perubahan sikap ayahnya beberapa pekan sebelum peristiwa naas itu terjadi. "Sekitar dua minggu sebelum kepergiannya, Pak Yani menjadi jauh lebih diam dan murung. Beliau merasa ada propaganda yang sengaja dihembuskan untuk merenggangkan hubungannya dengan Bung Karno, padahal Bung Karno sangat menyayangi beliau," kenang Amelia.
Ia menambahkan, pemulihan trauma atas tragedi berdarah tersebut membutuhkan waktu panjang dan kesadaran pribadi, salah satunya diwujudkan dengan mendirikan museum kenangan serta meneladani ketegaran sang ibu.
Sementara itu, K.H. Abdul Mun'im DZ memaparkan anatomi gerakan komunis di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa strategi propaganda PKI saat itu sangat masif hingga merambah sektor akademisi dan media massa. Menurutnya, masyarakat maupun TNI pada dasarnya merupakan korban dari agitasi dan provokasi sistematis.
Terkait dengan posisi organisasi keagamaan, Abdul Mun'im memaparkan empat poin sikap resmi Nahdlatul Ulama (NU):
- Sejarah harus dipahami secara utuh dan tidak boleh ditafsirkan secara anakronis.
- NU menyampaikan rasa penyesalan atas terjadinya tragedi berdarah antar-elemen bangsa.
- Penegasan komitmen untuk tidak meminta maaf kepada struktur politik PKI mengingat konteks konflik dan provokasi geopolitik saat itu.
- Tekad bulat untuk terus menjaga integritas NKRI dan Pancasila dari ancaman ideologi ekstrem.
Ketua Panata Dipantara, K.H. Adnan Anwar, menyampaikan bahwa refleksi sejarah rutin diadakan agar generasi muda paham akan sejarah bangsanya. "Agenda ini penting agar generasi muda tidak kehilangan arah dan paham rentetan peristiwa secara komprehensif, sekaligus menjadi ikhtiar bersama agar peristiwa kelam serupa tidak pernah terulang," tegasnya.
Acara dilanjutkan dengan penayangan dokumenter pendek, diskusi interaktif bersama mahasiswa, dan diakhiri dengan penyerahan cenderamata secara simbolis kepada para narasumber.
Reporter: Nakhla Isfina Siagian | Editor: Arini Aisyah Putri Bambang | Media: Muhammad Muchtar Aziz | Publisher: Zachra Fitri Fauziah




