UIN Jakarta Raih Peringkat ke-29 Dunia, Kemahasiswaan melalui FRESH Dorong Penguatan Budaya Riset Mahasiswa
Gedung Kemahasiswaan, Berita Kemahasiswaan Online – UIN Jakarta kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat global dengan menduduki peringkat ke-29 dunia pada bidang Theology, Divinity & Religious Studies dalam pemeringkatan QS World University Rankings by Subject 2026. Capaian ini meningkat signifikan dari posisi 101–105 pada tahun sebelumnya.
Melansir dari laman UIN Jakarta, institusi ini meraih overall score sebesar 76,1, dengan rincian Employer Reputation sebesar 49,1, H-index 92,1, Citations per Paper 94,5, serta Academic Reputation 75. Capaian ini menunjukkan percepatan kualitas akademik dan riset yang kian kompetitif secara global. Untuk mendukung hal ini, UIN Jakarta mempunyai Lembaga Otonom (LO) Fatahillah Researchers for Science and Humanity (FRESH) sebagai wadah pembinaan dan pengembangan riset mahasiswa.
Menanggapi capaian tersebut, mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) sekaligus pengurus LO FRESH, Nabiilah Ar-Rasyidah menilai bahwa prestasi yang diraih belum sepenuhnya tercermin dalam realitas di lapangan, khususnya di kalangan mahasiswa.
Menurutnya, meskipun minat mahasiswa terhadap riset mulai meningkat, keterlibatan aktif mereka masih terbatas. Nabiilah menyebut hal ini dipengaruhi oleh kurangnya pengenalan dan pembiasaan budaya riset. Sehingga sebagian mahasiswa masih menganggap riset hanya dapat dilakukan oleh kalangan tertentu.
“Menurutku riset itu di kalangan mahasiswa cukup bagus, dalam artian banyak orang-orang yang tertarik untuk publikasi, melakukan kegiatan penelitian, atau membaca jurnal. Cuma kalau terlibat secara aktif sebagai penulis itu masih kurang,” tutur Nabiilah, Rabu (22/04/2026).
Selain itu, Nabiilah juga menyoroti dukungan kampus yang dinilai belum sepenuhnya optimal. Meski fasilitas perpustakaan dan repositori telah tersedia dan bisa diakses, keduanya dinilai perlu dievaluasi dan ditingkatkan kegunaanya.
“Aku masih mendapati banyak repositori dan jurnal yang sudah expired. Selain itu, waktu operasional perpustakaan juga cukup terbatas,” ungkap Nabila.
Lebih lanjut, Nabiilah juga menilai keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan riset masih belum optimal karena minimnya pelibatan dalam proyek penelitian dosen serta keterbatasan pendanaan dari kampus turut menghambat penguatan budaya riset di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, FRESH menghadirkan program Klinik Riset untuk membantu mahasiswa memahami soal budaya riset dan tata cara kepenulisan ilmiah.
Nabiilah lanjut menjelaskan, klinik riset mentoring kepenulisan ditujukan bagi anggota aktif dan pengurus FRESH setiap pekannya. Terdapat tiga tingkatan atau level yang dihadirkan, mulai dari basic (dasar), level intermediate (menengah), dan level advanced (lanjut).
Setiap tingkatan memiliki target output tulisan yang berbeda. Pada level dasar, anggota diarahkan untuk menghasilkan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Di level menengah, targetnya adalah publikasi di jurnal nasional, sementara pada level lanjutan, anggota dituntut mampu menulis untuk jurnal internasional.
Sementara itu, pengurus LO FRESH lainnya, Ananda Bintang Kelana menyebut, FRESH merupakan salah satu solusi dalam membangun budaya riset di kalangan mahasiswa lewat program-program yang dihadirkan.
“FRESH sebagai organisasi mahasiswa (Ormawa) riset di UIN Jakarta menjadi penyokong kesadaran mahasiswa terhadap riset. Melalui program-program FRESH, kami membangun budaya riset di kampus,” tutur Bintang, pada Rabu (22/04/2026) .
Bintang menegaskan, budaya riset dapat dibangun melalui pembiasaan yang konsisten di lingkungan kampus, baik melalui materi perkuliahan maupun kegiatan di luar kelas.
“Dalam proses pembelajaran di kampus harus ada materi tentang penelitian. Mahasiswa harus membangun budaya itu sendiri salah satunya melalui diskusi,” ujar Bintang.
Tak hanya itu, Bintang juga menilai, prestasi UIN Jakarta di tingkat global menjadi tantangan baru sekaligus memberikan semangat bagi mahasiswa untuk semakin menguatkan budaya riset.
“Tantangan pastinya ada, civitas akademika termasuk mahasiswa harus membuktikan kualitas risetnya. Masih banyak permasalahan yang belum kita telusuri lebih jauh terutama di bidang ilmu Islam,” pungkasnya.
Reporter: Alfiah Ziha Rahmatul Laili |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby
