Wadahi Potensi Mahasiswa, FDI UIN Jakarta Resmi Hadirkan LSO Baru MAQRA dan MIDRAS
Wadahi Potensi Mahasiswa, FDI UIN Jakarta Resmi Hadirkan LSO Baru MAQRA dan MIDRAS

Berita Kemahasiswaan, Ormawa Fakultas- Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi meluncurkan dua Lembaga Semi Otonom (LSO) baru, yaitu Majma’ul Ashab Al-Qurra’ (MAQRA) yang fokus dalam bidang perlombaan Al-Qur'an dan Developing Research and Academic Science (MIDRAS) fokus di bidang penelitian Islamic Studies. Kedua LSO ini resmi dikukuhkan tanggal 16 April 2026 berbarengan dengan pelantikan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema), Senat Mahasiwa (Sema), dan Lembaga Semi Otonom (LSO) FDI. Langkah ini diambil sebagai strategi terorganisir pihak fakultas untuk mendongkrak capaian prestasi mahasiswa dari ranah individual menjadi komunal.

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FDI, Fatihunnada, mengungkapkan, pembentukan MAQRA dan MIDRAS melewati proses pengajuan dan diskusi yang panjang selama hampir dua tahun bersama para stakeholders. Pimpinan fakultas berkomitmen penuh memberikan pengukuhan dan pendampingan intensif, termasuk prioritas akses dana bantuan registrasi perlombaan.

"Dahulu FDI hanya dikenal unggul di bidang bahasa Arab, namun kini mahasiswa kita mulai mendominasi prestasi Al-Qur'an dan karya tulis ilmiah. Nilai tambah dari LSO tingkat fakultas ini adalah untuk merekrut sebanyak-banyaknya mahasiswa FDI, baik yang sudah punya bakat maupun yang mau belajar dari nol," ujar Ustadz Fatih dalam wawancaranya, Kamis (07/05).

Terkait adanya kemiripan bidang dengan UKM tingkat universitas (seperti HIQMA dan FRESH), Fatih menegaskan hubungan keduanya bersifat non-struktural yang saling mendukung. Fakultas juga menjanjikan alokasi dana khusus yang mengikat di masa depan jika kedua LSO ini mampu membuktikan dampak prestasi yang masif, berkaca pada kesuksesan LSO Debat Bahasa Arab (Abqary) terdahulu.

Menyambut peresmian tersebut, Ketua LSO MAQRA, Ihza Muhammad Dhiyaul Haq, memaparkan bahwa fokus utama lembaga yang dipimpinnya adalah mengasah potensi mahasiswa secara terstruktur di lima bidang utama MTQ. Bidang-bidang tersebut meliputi Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), Hifzil Qur'an (MHK), Murattal Al-Qur'an (MMK), Syarhil Qur'an (MSK), dan Fahmil Qur'an (MFQ).

Ihza menuturkan, target program tersebut terbuka lebar untuk seluruh mahasiswa FDI dari semester 1 hingga 6. Proses kaderisasi harus dimulai sedini mungkin tanpa membatasi jenjang angkatan.

"Kekhasan MAQRA terletak pada pendekatan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada piala atau lomba, melainkan pada penguatan dasar keilmuan Al-Qur'an yang selaras dengan karakter FDI. Kami ingin melahirkan kader yang kuat secara performa sekaligus matang secara pemahaman," urai Ihza, Jumat (8/5).

Selain itu, Ihza juga menargetkan, dalam satu tahun ke depan, roadmap MAQRA akan difokuskan pada penguatan internal, pemetaan minat bakat lewat latihan rutin, serta perluasan kolaborasi program. Untuk mengantisipasi organisasi yang hanya meledak di awal, Ihza bersama tim tengah merancang sistem kaderisasi, digitalisasi dokumentasi program, serta membangun kultur organisasi yang sehat agar tidak bergantung pada figur perorangan.

Di sisi lain, LSO MIDRAS hadir sebagai jawaban atas keresahan mahasiswa pegiat riset yang sebelumnya bergerak secara mandiri di luar kampus. Ketua MIDRAS, Nabiilah Ar Rasyidah, menjelaskan, fokus utama LSO ini berada di jalur kepenulisan ilmiah, seperti esai, Karya Tulis Ilmiah (KTI), artikel jurnal, hingga paper conference.

Tak hanya itu, Nabiilah juga menjelaskan, saat ini kepengurusan MIDRAS yang digawangi oleh mahasiswa berprestasi termasuk Muhammad Arsyad Fadhilaturrahman selaku Wakil Ketua, sedang bergerak cepat merintis silabus pembelajaran, Standar Operasional Prosedur (SOP), dan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi menjelang pergerakan efektif pada Juni mendatang. Keanggotaan MIDRAS sendiri dikhususkan bagi mahasiswa FDI, dengan target Open Recruitment (Oprec) terdekat bagi semester 2 sampai 6.

Nabiilah menegaskan bahwa gempuran riset bertema umum sama sekali bukan ancaman bagi metodologi Islamic Studies. Sebaliknya, keterbukaan riset umum justru menjadi ladang luas bagi mahasiswa FDI untuk melakukan interkoneksi keilmuan.

Menurut Nabiilah, ia tidak melihat riset umum sebagai dikotomi. Integrasi sains dan agama itu mutlak berjalan selaras. Sama halnya kita tidak akan bisa tahu waktu salat atau arah kiblat yang presisi tanpa bantuan ilmu astronomi dan teknologi jam dinding. 

“Di sinilah keunikan MIDRAS, kami mengkaji bagaimana Islam menanggapi isu-isu kontemporer dengan metodologi yang berakar kuat dan memanusiakan manusia," pungkas Nabiilah.

Reporter: Ahmad Ivan Abid Nugroho |Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin |Publisher: Muhammad Haikal Aby

Dokumentasi:
f1

f2

f3